Pemandangan gunung-gunung di Kabupaten Dompu yang kini cokelat gundul bukan lagi pemandangan asing. Setiap musim tanam tiba, ribuan hektar hutan dibabat demi hamparan jagung. Namun, ada satu pertanyaan besar yang menyesakkan dada: Jika jutaan ton jagung dihasilkan setiap tahun, mengapa petani kita tak kunjung sejahtera?
Realitanya pahit. Petani jagung kita terjebak dalam sistem “perbudakan modern” yang dibungkus dengan bantuan modal. Karena sulitnya akses modal resmi, petani lari ke pengepul atau tengkulak. Mereka diberi bibit dan pupuk, namun harganya sudah “dicekik” sejak awal. Saat panen tiba, harga jagung ditentukan sepihak oleh pengusaha dengan berbagai dalih kadar air dan biaya angkut.
Malam Jahanam di Pegunungan Dompu: Hujan Lebat ‘Membunuh’ Harapan Petani Jagung di Tengah Panen Raya
Hasilnya? Petani hanya mendapat lelah dan sisa utang, sementara pengusaha duduk manis menghitung untung dari mesin pengering dan gudang-gudang besar mereka. Gunung habis dibabat, tapi dompet petani tetap melarat.
Mengapa Petani Tetap “Berjudi” di Lereng Gunung yang Gersang?
Banyak yang bertanya, jika menanam jagung sering membuat buntung, mengapa petani Dompu tetap naik ke gunung setiap tahun? Jawabannya sederhana namun menyakitkan: karena tidak ada pilihan lain. Bagi petani, menanam jagung telah menjadi semacam “perjudian” nasib di tengah sempitnya lapangan kerja.
Meski tahun lalu rugi, mereka berharap tahun ini harga membaik. Ketiadaan industri pengolahan atau sektor jasa yang menyerap tenaga kerja membuat lereng gunung menjadi pelarian terakhir. Namun, ada harga mahal yang tidak dibayar oleh pengusaha: kerusakan lingkungan.
Ketika banjir bandang atau kekeringan melanda akibat hutan gundul, yang kehilangan harta benda dan sawah adalah rakyat kecil di kaki gunung. Pengusaha membawa lari keuntungan ke kota besar, sementara warga lokal ditinggalkan bersama sisa lumpur banjir. Ini adalah ekonomi yang merusak, di mana alam dihancurkan demi keuntungan semu yang tidak pernah singgah di kantong petani.
Ketakutan Politisi dan Hilangnya Keberanian Menata Ekologi
Mengapa hutan Dompu terus dibabat tanpa ada tindakan tegas dari pemegang kebijakan? Jawabannya ada di kotak suara. Isu hutan gundul adalah “barang haram” bagi para politisi, baik di gedung DPRD maupun pendopo kepala daerah.
Menyuarakan pelestarian hutan atau membatasi tanam jagung di lereng curam dianggap sebagai bunuh diri politik. Para pejabat kita takut kehilangan suara dari basis petani jagung yang jumlahnya sangat besar. Akibatnya, isu lingkungan hidup selalu kalah telak oleh kepentingan politik jangka pendek.
Dompu butuh pemimpin yang berani—yang tidak hanya pandai berjanji saat kampanye, tapi berani memutus rantai tengkulak dan menata kembali zonasi lahan. Jika politik kita terus tersandera oleh ketakutan kehilangan kursi, maka kita sebenarnya sedang mewariskan bencana bagi anak cucu. Jagung mungkin bisa dipanen dalam empat bulan, namun hutan yang rusak butuh puluhan tahun untuk kembali, sementara banjir bisa datang kapan saja untuk menyapu sisa-sisa harapan kita. (*)










