DOMPU, DompuBicara.com — Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu menyiapkan pendekatan baru dalam mengendalikan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan memanfaatkan predator alami jentik nyamuk.
Langkah tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Dompu, dengan rencana memanfaatkan ikan air tawar untuk mengendalikan jentik nyamuk Aedes aegypti di laguna maupun genangan air yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya Dinkes menghadapi perubahan pola penyebaran DBD di Dompu. Meskipun angka kasus dalam lima tahun terakhir cenderung menurun, kewaspadaan tetap diperlukan karena titik penyebaran penyakit mulai bergeser ke wilayah-wilayah yang sebelumnya bukan merupakan daerah endemis.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu, Maria Ulfa, menjelaskan bahwa perubahan pola tersebut perlu diikuti dengan strategi pengendalian yang adaptif.
“Ini menunjukkan adanya perubahan pola penyebaran. Daerah yang dulu endemis sekarang sudah terkendali, tapi muncul titik-titik baru yang harus diwaspadai,” katanya.
Wilayah Endemis Lama Mulai Terkendali
Menurut Maria, sejumlah wilayah yang sebelumnya dikenal sebagai daerah endemis DBD dalam lima tahun terakhir justru mencatat nol kasus.
Wilayah tersebut antara lain Kelurahan Bali Satu dan Karijawa di Kecamatan Dompu, Kelurahan Simpasai di Kecamatan Woja, serta Desa Jala di Kecamatan Hu’u.
Namun, pada saat yang sama muncul wilayah lain yang perlu mendapat perhatian. Kecamatan Kilo, sebagian wilayah Kecamatan Woja di luar Kelurahan Simpasai, serta Kelurahan Dorotangga di Kecamatan Dompu disebut menjadi wilayah dengan angka serangan tertinggi sepanjang 2025.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengendalian DBD tidak cukup hanya berfokus pada wilayah yang selama ini dikenal sebagai kantong penyakit. Perubahan pola penyebaran harus terus dipantau sehingga intervensi dapat diarahkan ke lokasi yang membutuhkan.
Belajar dari Pengendalian Malaria
Rencana pemanfaatan predator alami tersebut bukan sepenuhnya pendekatan baru bagi Dompu.
Dinkes melihat pengalaman pengendalian malaria sebagai salah satu model yang dapat dikembangkan untuk menghadapi DBD. Sebelumnya, ikan air tawar dimanfaatkan untuk membantu mengendalikan jentik nyamuk di sejumlah laguna.
Kini pendekatan serupa akan dikoordinasikan bersama Dinas Perikanan dan Kelautan untuk diterapkan pada lokasi-lokasi yang memungkinkan.
Ikan air tawar diharapkan dapat memangsa jentik nyamuk yang berkembang di genangan air, sehingga pengendalian tidak semata-mata bergantung pada fogging atau penggunaan bahan kimia. (RRI.co.id)
“Ini menjadi salah satu solusi jangka panjang yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ujar Maria.
Pengendalian DBD Tidak Hanya di Hilir
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pengendalian DBD diarahkan tidak hanya pada penanganan ketika kasus sudah muncul, tetapi juga pada pengurangan tempat berkembang biaknya nyamuk.
Dengan memanfaatkan predator alami, Dinkes berupaya mencari metode pengendalian yang dapat diterapkan secara berkelanjutan dan menyesuaikan karakter lingkungan setempat.
Meski demikian, peran masyarakat tetap menjadi bagian penting. Dinkes mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan selama musim pancaroba dengan menjaga kebersihan lingkungan serta menghilangkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Sebab, keberhasilan pengendalian DBD pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh intervensi pemerintah, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat menjaga lingkungan di sekitar tempat tinggal.
Bagi Dompu, inovasi pemanfaatan predator alami ini menjadi salah satu pilihan untuk memperkuat pengendalian DBD sekaligus membangun pola pencegahan yang lebih ramah lingkungan dan berorientasi jangka panjang. (DB01)





