Diam Tapi Mematikan, Ancaman Tak Terlihat dari Perut Tambora

Aktifitas Vulkanik Masih Tinggi

Aktifitas Gunung Tambora masih saja terjadi,, warga diminta waspada untuk dekat kekawasan tersebut

DOMPUBICARA.COM — Dari kejauhan, Gunung Tambora tampak tenang. Langit di atas kaldera terlihat biasa, angin berhembus seperti hari-hari lain. Tidak ada letusan, tidak ada gemuruh yang menggetarkan. Namun, di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang tak terlihat—dan justru itulah yang paling berbahaya.

Aktivitas vulkanik di kawasan Doro Api Toi dan Doro Api Bou masih cukup tinggi. Data kegempaan mencatat puluhan getaran dalam sehari. Angka yang bagi sebagian orang mungkin hanya statistik, tetapi bagi para pengamat gunungapi, itu adalah tanda bahwa perut bumi masih bergerak.

Imanuel Ajukan Penangguhan Penahanan, Bayang-Bayang Tahanan Rumah Yaqut Menguat

Dan dari pergerakan itulah, ancaman muncul. Bukan berupa lava pijar atau abu vulkanik yang kasat mata, melainkan gas karbon dioksida (CO2). Gas yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak memberikan tanda apa pun saat mulai memenuhi ruang udara.

“Ini yang justru paling berbahaya,” kata Rasyidin, pengamat di Pos Pengamatan Gunungapi Tambora, sebagai yang termuat dalam berita media online Suara NTB.com Rabu 25 Maret 2026

CO2 tidak memberi kesempatan untuk menyadari bahaya. Tidak seperti asap yang terlihat atau bau menyengat yang bisa dihindari, gas ini bekerja diam-diam. Dalam konsentrasi tinggi, ia bisa membuat seseorang kehilangan kesadaran hanya dalam hitungan menit.

Di kawasan kaldera yang dalam—sekitar 1.300 meter—gas semacam ini bisa terperangkap dan terkumpul di titik-titik tertentu. Terutama di area rendah, cekungan, atau saat kondisi angin tidak bergerak. Di situlah risiko menjadi nyata. Dari Lakey: Ketika Daerah Bicara ke Dunia

Karena itu, batas aman 3 kilometer dari puncak bukan sekadar angka. Ia adalah garis yang memisahkan antara wilayah yang relatif aman dan zona yang berpotensi mematikan.

Di kaki Tambora, sebagian warga mungkin tetap beraktivitas seperti biasa. Ladang, ternak, dan rutinitas harian terus berjalan. Namun di atas sana, di puncak yang tampak sunyi, dinamika alam sedang berlangsung tanpa henti.

Gunung ini tidak selalu menunjukkan ancamannya dengan cara yang dramatis. Kadang, ia hanya diam. Dan justru dalam diam itulah, bahaya bisa datang tanpa tanda.

Karena itu, peringatan yang disampaikan bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menjaga. Agar tidak ada yang menganggap tenang sebagai aman, atau sepi sebagai tidak berbahaya.

Sebab Tambora, seperti alam pada umumnya, tidak pernah benar-benar berhenti. Ia hanya menunggu waktu. Letusan yang terjadi ditahun 1815 silam adalah bukti betapa Gunung Tambora yang terletak di Kabupaten Dompu dan Bima telah menggetarkan dunia dengan letusanya yang sangat dahsyat. (Redaksi)