SAYA, memulai karir menulis sejak tahun 1993, ketika menjadi wartawan media cetak, itu bukan sekadar pekerjaan, tetapi cara hidup. Saat itu, berita adalah sesuatu yang dikejar dengan kaki, dicatat dengan tangan, dan dipertaruhkan dengan keberanian.
OLEH ABDUL MUIS
Waktu itu, kecepatan adalah segalanya. Menjadi yang pertama berarti menang. Menjadi yang terlambat berarti kehilangan. Maka hari-hari diisi dengan berlari—dari satu peristiwa ke peristiwa lain—seolah-olah dunia akan berhenti jika kita tidak sampai lebih dulu.
BACA : Idul Fitri Bukan Sekadar Seremonial : Bupati Dompu Soroti Persatuan dan Arah Pembangunan Daerah
Waktu terus berjalan dan tanpa terasa, kini berada di usia menjelang tua hampir kepala 6, sebuah usia yang dalam ukuran umum, tak lagi bisa disebut muda.
Saya tidak lagi secepat dulu. Itu fakta. Kaki tidak lagi ringan mengejar peristiwa. Energi tidak lagi seutuh masa muda. Dan di tengah dunia yang kini bergerak jauh lebih cepat—dengan berita yang bisa muncul dalam hitungan detik—saya sadar satu hal, saya tidak lagi berada di arena yang sama.
Tetapi di situlah sesuatu berubah, saya mulai menyadari bahwa tidak semua yang cepat itu benar. Tidak semua yang lebih dulu itu lebih jujur. Dan tidak semua yang ramai itu layak dipercaya.
Di titik ini, saya seperti menemukan kembali makna dari pekerjaan yang dulu saya jalani tanpa banyak bertanya. Saya bukan lagi penulis yang mengejar berita, tetapi penulis yang menguji kebenaran.
Kalimat ini bukan lahir dari kelelahan, tetapi dari kesadaran. Bahwa setelah puluhan tahun berada di dalam arus informasi, saya melihat sesuatu yang dulu mungkin luput, bahwa berita tidak hanya dilaporkan, tetapi juga bisa dibentuk. Bahwa fakta tidak selalu hadir apa adanya, tetapi sering datang bersama kepentingan.
Pengalaman mengajarkan saya untuk tidak mudah percaya. Untuk membaca lebih dalam. Untuk menahan diri dari kesimpulan yang tergesa-gesa. Kasus Gratifikasi DPRD NTB : Perkara Berlanjut, Konsistensi Hukum Masih Diuji
Dulu, saya merasa tertinggal jika tidak cepat menulis. Sekarang, saya justru merasa khawatir jika menulis terlalu cepat. Karena saya tahu, kesalahan dalam kecepatan bisa berakibat pada kekeliruan dalam kebenaran.
Di usia ini, menulis bukan lagi soal membuktikan diri. Bukan lagi tentang dikenal atau diakui. Tetapi tentang satu hal yang lebih sunyi, tetap setia pada apa yang benar, meskipun tidak selalu mendapat tempat.
Saya juga menyadari, dunia jurnalistik telah berubah. Anak-anak muda hari ini memiliki kecepatan yang tidak saya miliki lagi. Mereka bergerak dengan teknologi, dengan ritme yang berbeda, dengan cara yang tidak lagi sama dengan masa saya dulu.
Dan itu tidak salah karena setiap zaman memang melahirkan caranya sendiri. Namun satu hal yang tidak berubah, saya tetap menulis.
Saya masih menulis opini. Masih menulis analisis hukum, sosial, dan isu-isu pemerintahan. Masih mencoba membaca arah, menimbang kebijakan, dan memahami apa yang sesungguhnya terjadi di balik peristiwa.
Bukan karena tuntutan, tetapi karena kesadaran. Bahwa dalam setiap zaman, selalu dibutuhkan suara yang tidak tergesa-gesa. Suara yang tidak larut dalam arus. Suara yang bersedia berhenti sejenak untuk memastikan bahwa yang disampaikan tidak sekadar cepat, tetapi benar.
Saya tidak lagi menulis untuk menjadi yang pertama. Saya menulis untuk memastikan bahwa kebenaran tidak sepenuhnya hilang di tengah kebisingan.
Dan mungkin, di usia seperti sekarang, itulah bentuk tanggung jawab yang paling jujur yang masih bisa saya jalankan. Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan publik bukan hanya informasi, tetapi penjelasan. Bukan hanya kabar, tetapi makna. Dan selama itu masih dibutuhkan, saya akan tetap menulis. (Penulis adalah wartawan era 90-an)













