Jika pada sesi pertama kita mengenal Immanuel Kant sebagai sosok dari “pinggiran” yang melahirkan gagasan besar, maka di sesi ini kita masuk pada inti paling berani dari pemikirannya, yakni Sapere Aude atau beranilah berpikir sendiri. Berikut lanjutan tulisan menjadi tua ditengah dunia yang semakin bising.
OLEH ABDUL MUIS, DOMPU
Kalimat ini sederhana. Tetapi dalam praktiknya, ia menjadi semakin sulit di era ketika semua orang bisa bersuara, tetapi tidak semua mau berpikir. Hari ini, dunia tidak kekurangan informasi—ia justru kelebihan suara.
Di ruang publik, berita berlomba menjadi paling cepat, opini sering mendahului verifikasi, narasi dibentuk oleh emosi, bukan data. Dalam situasi seperti ini, kebenaran sering kalah bukan karena salah, tetapi karena tidak cukup cepat dan tidak cukup viral.
Menjadi Tua di Tengah Dunia yang Semakin Bising (Sesi I)
Di sinilah Sapere Aude menjadi relevan bagi penulis dan wartawan. Seorang penulis atau wartawan hari ini tidak hanya berhadapan dengan fakta, tetapi juga dengan tekanan, tekanan kecepatan (harus tayang duluan), tekanan klik dan trafik, tekanan opini publik bahkan tekanan kekuasaan.
Akibatnya, tidak sedikit yang akhirnya memilih aman, mengikuti arus, mengulang narasi yang sudah ramai, atau menghindari sudut pandang yang berbeda. Padahal, Kant justru menuntut hal sebaliknya, berpikir sebelum menulis, bukan sekadar menulis apa yang sedang dipikirkan orang banyak.
Dalam dunia media, jumlah pembaca sering dijadikan ukuran keberhasilan. Tetapi Kant mengingatkan sesuatu yang lebih mendasar, kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah yang menyetujui. Sebuah tulisan bisa viral dan tetap keliru. Sebuah analisis bisa sepi dan tetap benar. Di titik ini, penulis diuji, apakah ia menulis untuk disukai, atau untuk dipertanggungjawabkan?
Tanpa disadari, banyak media dan penulis hari ini terjebak dalam “ruang gema”: mengulang narasi yang sama, memperkuat opini yang sudah dominan, dan menghindari perspektif yang berisiko. Akibatnya, publik tidak mendapatkan kedalaman, perdebatan menjadi dangkal, kebenaran kehilangan ruang.
Kant akan menyebut ini sebagai bentuk ketidakdewasaan berpikir, ketika seseorang tidak lagi menggunakan akalnya sendiri, tetapi hanya menjadi perpanjangan suara orang lain.
Seiring waktu, seorang penulis atau wartawan akan berubah. Di usia muda, mungkin ia mengejar kecepatan.
Tetapi dalam kedewasaan, ia seharusnya mengejar ketepatan. Di sinilah makna “menjadi tua” dalam perspektif Kant, bukan berhenti menulis, tetapi menulis dengan tanggung jawab yang lebih dalam.
Ia tidak lagi tergoda untuk sekadar ikut ramai, tetapi memilih untuk memberi arah. Karena pada akhirnya, tulisan bukan hanya soal informasi, tetapi soal integritas.
Jika Sapere Aude adalah keberanian untuk berpikir sendiri, maka pertanyaan berikutnya adalah, bagaimana memastikan pikiran itu tetap berada di jalur yang benar?. Apakah cukup hanya mandiri, atau harus ada prinsip yang lebih tinggi?. (BERSAMBUNG)













