Di sebuah kota kecil bernama Königsberg—wilayah yang dahulu berada di bawah bayang-bayang Kekaisaran Rusia—lahir seorang pemikir yang tidak pernah banyak bepergian, tetapi pikirannya melintasi zaman. Dialah Immanuel Kant. Ia bukan jenderal. Bukan raja. Bukan pula tokoh revolusi jalanan. Namun ide-idenya justru mengguncang fondasi cara manusia berpikir tentang moralitas, hukum, dan kebebasan.
OLEH : ABDUL MUIS, DOMPU
Königsberg bukan pusat kekuasaan. Ia adalah kota pinggiran—terpencil, dingin, dan jauh dari hiruk-pikuk politik Eropa saat itu. Bahkan dalam periode tertentu, wilayah ini berada di bawah pengaruh Rusia. Tetapi justru dari “pinggiran” itulah Kant melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Antara MBG dan IKN : APBN di Persimpangan Arah Pembangunan
Ia tidak terjebak dalam euforia kekuasaan. Ia tidak larut dalam ambisi politik praktis. Sebaliknya, ia membangun satu hal yang hari ini justru langka, yakni ketenangan berpikir.
Di tengah dunia yang saat itu mulai bergerak menuju modernitas—dan hari ini berubah menjadi kebisingan tanpa henti—Kant sudah lebih dulu menawarkan fondasi, bahwa manusia harus berpikir dengan akalnya sendiri.
Apa yang membuat Kant tetap hidup hingga hari ini? Jawabannya sederhana, karena masalah manusia tidak pernah benar-benar berubah. Dulu, manusia berhadapan dengan kekuasaan absolut. Hari ini, manusia berhadapan dengan kebisingan absolut.
Dulu, orang takut pada raja. Hari ini, orang takut pada opini publik. Dan di dua zaman itu, pesan Kant tetap sama, ”jangan serahkan akalmu kepada siapa pun”.
Jika Kant hidup hari ini, mungkin ia tidak akan aktif di media sosial. Bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena ia tahu satu hal, bahwa tidak semua yang ramai itu penting. Dan tidak semua yang viral itu benar. Dalam dunia digital yang penuh suara—di mana setiap orang ingin didengar tetapi sedikit yang mau berpikir—Kant justru menjadi semakin relevan.
Jelang Tua, Tidak Lagi Mengejar Berita
Ia mengajarkan bahwa kebebasan bukan tentang berbicara tanpa batas, tetapi tentang berpikir dengan tanggung jawab. Mengapa Kita Perlu Kembali ke Kant?, karena hari ini kita hidup dalam paradoks, informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan menipis.
Suara semakin banyak, tetapi kebenaran semakin samar, kebebasan semakin luas, tetapi akal semakin malas digunakan. Kant menawarkan jalan keluar yang tidak populer, tetapi mendasar, kembali ke akal, kembali ke prinsip.
Dari sinilah pertanyaan besar muncul, Bagaimana manusia bisa tetap rasional di tengah dunia yang bising?
Bagaimana seseorang bisa menua tanpa kehilangan arah di tengah tekanan zaman. (Bersambung)










