Opini  

Menjadi Tua di Tengah Dunia yang Semakin Bising (Sesi IV)

Martabat Manusia: Menulis Tanpa Menjadikan Manusia sebagai Alat

Abdul Muis menulis Dompubicara
Dua fegur berbeda jaman, Immanuel Kant dan Abdul Muis

Setelah memahami Sapere Aude dan Imperatif Kategoris, kita sampai pada salah satu puncak pemikiran Immanuel Kant. Manusia harus selalu diperlakukan sebagai tujuan, bukan sebagai alat. Kalimat ini sederhana, tetapi di zaman sekarang—ia terasa seperti kritik keras terhadap cara dunia bekerja.

ABDUL MUIS, DOMPU

Dunia hari ini tidak hanya bising—ia juga kompetitif. Dalam dunia media dan penulisan, tragedi bisa menjadi headline, konflik bisa menjadi trafik, penderitaan bisa menjadi konten. Perlahan, tanpa disadari, manusia berubah fungsi, bukan lagi subjek yang harus dihormati, tetapi objek yang bisa dimanfaatkan.

baca : Pelabuhan Nusantara Kilo Mulai Dibangun : Harapan Besar, Ujian Baru untuk Dompu

Kant sudah mengingatkan jauh sebelum era digital, ketika manusia dijadikan alat, di situlah moral mulai runtuh. Setiap tulisan membawa konsekuensi. Satu berita bisa:, engangkat martabat seseorang, atau justru meruntuhkannya. Satu narasi bisa, memberi pemahaman, atau memicu kebencian. Di titik ini, pertanyaan Kant menjadi sangat relevan, apakah orang yang kita tulis diperlakukan sebagai manusia, atau sekadar bahan cerita?

Menulis tentang seseorang tanpa empati, mengambil bagian paling dramatis tanpa konteks, atau membentuk persepsi tanpa keadilan semua itu mungkin “menarik”, tetapi tidak bermartabat.

Menjadi Tua di Tengah Dunia yang Semakin Bising (Sesi III)

Dalam kebisingan informasi, batas antara hak publik untuk tahu dan hak individu untuk dihormati sering kabur.  Tidak semua yang bisa ditulis harus ditulis. Tidak semua yang benar harus disajikan tanpa pertimbangan. Di sinilah kedewasaan seorang penulis diuji.

Di usia muda, mungkin seseorang tergoda untuk, mengejar berita paling keras mengangkat isu paling panas menulis dengan sudut paling tajam, tetapi dalam kedewasaan, perspektif itu berubah. Ia mulai bertanya, apakah ini adil?, apakah ini perlu?, apakah ini manusiawi?.

Menjadi tua, dalam arti Kant, adalah ketika seseorang mulai menahan diri, bukan karena takut, tetapi karena memahami batas moral.

Dunia mungkin tidak akan berhenti menjadikan manusia sebagai komoditas. Tetapi seorang penulis selalu punya pilihan, ikut memperbesar eksploitasi, atau menjadi penyeimbang. Menulis dengan empati bukan berarti melemahkan fakta, tetapi memperkuat kemanusiaan.

Dan justru di tengah dunia yang keras, sikap ini menjadi bentuk keberanian yang paling sunyi.

Setelah prinsip, setelah martabat, Kant masih menyisakan satu pertanyaan penting, bagaimana manusia bisa tetap tenang di tengah dunia yang terus berisik?. Karena pada akhirnya, bukan hanya dunia luar yang bising—
tetapi juga pikiran manusia sendiri.

Di sesi berikutnya, kita akan masuk pada satu dimensi yang lebih personal, tentang kebebasan batin—bagaimana seseorang bisa tetap jernih, tenang, dan utuh, meskipun dunia di sekelilingnya terus gaduh.

Dan di sanalah, makna “menjadi tua” akan menemukan bentuknya yang paling dalam. (*)