Pada sesi sebelumnya, kita sampai pada satu titik penting dalam pemikiran Immanuel Kant yakni Sapere Aude atau keberanian untuk berpikir sendiri. Namun Kant tidak berhenti di sana. Berpikir mandiri saja tidak cukup. Karena seseorang bisa saja berpikir bebas, tetapi tetap keliru. Di sinilah Kant melangkah lebih jauh, dengan satu gagasan yang menjadi fondasi moralitas modern yaitu Imperatif Kategoris.
OLEH ABDUL MUIS
Apa Itu Imperatif Kategoris?. Secara sederhana, Kant mengajukan satu pertanyaan mendasar, “Bagaimana jika tindakanmu dijadikan aturan untuk semua orang?”. Jika jawabannya merusak, maka tindakan itu salah.
Jika jawabannya memperbaiki, maka tindakan itu layak dipertahankan. Ini bukan soal hukum tertulis. Ini soal kompas batin. Menjadi Tua di Tengah Dunia yang Semakin Bising (Sesi II)
Dalam dunia penulisan dan jurnalistik hari ini, godaan terbesar bukan lagi sensor, tetapi kompromi. Judul dibuat lebih sensasional dari isi. Fakta dipilih, bukan disajikan utuh, Narasi dibentuk untuk kepentingan tertentu
Semua itu mungkin terlihat “biasa”, bahkan dianggap bagian dari strategi.
Tetapi Kant akan mengajukan pertanyaan sederhana, Bagaimana jika semua penulis melakukan hal yang sama? Jika semua berita dilebihkan, jika semua fakta dipelintir, jika semua tulisan tunduk pada kepentingan, maka yang runtuh bukan hanya media, tetapi kepercayaan publik.
Integritas: Barang Langka di Era Bising. Menjadi Tua di Tengah Dunia yang Semakin Bising (Sesi I)
Kebisingan hari ini bukan hanya soal banyaknya suara, tetapi juga kaburnya batas antara benar dan tidak. Di titik ini, integritas menjadi mahal. Karena menulis dengan prinsip sering kali berarti, tidak populer, tidak cepat viral
bahkan bisa berisiko, tetapi justru di situlah letak nilai moral menurut Kant.
tindakan yang benar adalah yang dilakukan karena kewajiban, bukan karena keuntungan. Penulis Bukan Sekadar Penyampai, Tetapi Penentu Arah. Seorang penulis atau wartawan bukan hanya menyampaikan informasi. Ia ikut membentuk cara publik memahami realitas. Satu judul bisa memicu kemarahan. Satu narasi bisa menggerakkan massa. Satu framing bisa mengaburkan fakta.
Maka pertanyaannya menjadi sangat serius, apakah tulisan ini akan memperjelas, atau justru memperkeruh? Imperatif kategoris menuntut kejujuran pada level ini, bukan hanya pada fakta, tetapi pada niat.
Seiring bertambahnya usia, seseorang akan semakin sering dihadapkan pada pilihan, tetap idealis atau mulai kompromi, menjaga prinsip atau menyesuaikan diri, berdiri sendiri atau ikut arus, tetapi Kant tidak memberi ruang abu-abu.
Baginya, manusia yang matang adalah manusia yang bertindak berdasarkan prinsip yang bisa dipertanggungjawabkan secara universal. Artinya, ia tidak menulis karena tekanan, tidak membelokkan fakta karena kepentingan, dan tidak menjadikan publik sebagai alat. (BERSAMBUNG)













