DOMPUBICARA-Peringatan Hari Jadi Dompu ke-211 seharusnya menjadi ruang bersama—tempat semua energi, harapan, dan komitmen bertemu dalam satu panggung yang sama. Sebuah momentum yang bukan hanya seremonial, tetapi juga refleksi: ke mana arah Dompu akan dibawa.
Namun di tengah semangat itu, publik menangkap satu simbol yang sulit diabaikan—kursi yang tak terisi. Bukan sekadar tentang siapa yang hadir atau tidak, tetapi tentang makna yang muncul di ruang publik. Dalam kepemimpinan, simbol seringkali berbicara lebih keras daripada pidato. Kehadiran, kebersamaan, dan keselarasan menjadi pesan yang langsung terbaca oleh masyarakat.
Tak Hadir di Agenda Penting, Ini Penjelasan Wabub Dompu
Tema “Bergerak Bersama Dompu Maju” yang diusung dalam peringatan HUT kali ini sejatinya mengandung harapan besar. Ia bukan sekadar slogan, tetapi panggilan untuk berjalan seiring, menyatukan langkah, dan menempatkan kepentingan rakyat di atas segala dinamika.
Masyarakat tentu memahami bahwa dalam perjalanan kepemimpinan, perbedaan adalah hal yang wajar. Kesibukan, kondisi pribadi, bahkan dinamika internal, adalah bagian dari realitas yang tidak bisa dihindari.
Namun, justru di situlah letak ujian kepemimpinan—bagaimana semua perbedaan itu dikelola, bukan ditampakkan.
Karena bagi masyarakat, yang ingin dilihat bukan kesempurnaan, melainkan kebersamaan. Bukan siapa yang lebih dominan, tetapi siapa yang lebih mampu merangkul.
HUT Dompu semestinya menjadi titik balik. Momentum untuk merapikan langkah, menurunkan ego, dan kembali menguatkan komitmen bersama. Sebab pembangunan tidak hanya dibangun dengan program dan angka, tetapi juga dengan harmoni di level kepemimpinan.
Dompu memiliki potensi besar—pertanian, peternakan, hingga sumber daya alam yang menjanjikan. Tetapi semua itu membutuhkan satu hal yang tidak kalah penting: soliditas.
Mungkin inilah saatnya memaknai ulang arti “bergerak bersama”. Bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam sikap, kehadiran, dan keteladanan.
Bupati Usung Kebersamaan, Kursi Wakil Kosong, Doa Peredam Amarah
Karena pada akhirnya, rakyat tidak menuntut banyak. Mereka hanya ingin melihat para pemimpinnya berjalan dalam satu irama.
Dan jika ada yang perlu diturunkan, mungkin bukan posisi melainkan ego, demi Dompu yang benar-benar maju. (*)













