DOMPU, DOMPUBICARA.COM – Peringatan Hari Jadi Dompu ke-211 yang berlangsung dihalaman kantor Bupati Sabtu, 11 April 2026, menjadi sorotan publik akibat kontras tajam antara narasi yang dibangun dengan fakta di lapangan. Di tengah pidato Bupati Dompu, Bambang Firdaus, SE, yang berulangkali menggaungkan semangat kebersamaan, kursi Wakil Bupati justru terlihat kosong. Situasi ini kian dramatis dengan lantunan doa dari pejabat Kementerian Agama yang secara spesifik menyinggung soal pengendalian amarah dan emosi pemimpin diakhir acara.
Dalam naskah sambutannya, Bupati menyebutkan bahwa transformasi acara dari upacara formal ke konsep lesehan (duduk bersama di lantai) memiliki makna mendalam untuk membangun kebersamaan, persaudaraan, dan kesederhanaan tanpa sekat sosial. Hal ini diklaim sebagai simbol bahwa Dompu adalah daerah yang inklusif dan egaliter.
Namun, pantauan di lokasi menunjukkan realita berbeda. Para tamu undangan tetap duduk di kursi kaku dan Bupati tetap berpidato di balik podium formal. Kegagalan implementasi simbol “membaur” ini, ditambah dengan absennya Wakil Bupati, mempertegas adanya jarak yang masih menganga di tingkat elit pimpinan, meskipun dalam teks pidatonya Bupati menyatakan siap bekerja bersama Wakil Bupati untuk memimpin Dompu lima tahun ke depan. Mobil Tabrak Sapi, Siapa Yang Harus Bertanggung Jawab?
Bupati mengibaratkan kemajuan Dompu sebagai sebuah “orkestra” yang dibentuk atas semangat soliditas dan solidaritas. Di balik dinamika politik yang merenggang, Bupati memaparkan sejumlah capaian positif sepanjang tahun 2025.
Pertumbuhan Ekonomi: Meningkat menjadi 4,75% dari sebelumnya 3,62% pada tahun 2024. Sektor pertanian tumbuh signifikan dengan produksi jagung mencapai 432.280 ton dan padi 204.214 ton. Angka kemiskinan turun sebesar 0,45% menjadi 11,15% atau sebanyak 31.270 jiwa. Pendapatan per kapita warga naik menjadi Rp38.110.000.
Diakhir acara tampil pejabat Kementrian Agama Kabupaten Dompu Drs H Burhanuddin untuk membaca doa. Menariknya naska doatersebut seolah memotret kondisi batin pimpinan daerah yang sedang tidak harmonis.
Dalam petikan doanya, Kemenag memohon kekuatan lahir dan batin bagi para pemimpin untuk “meredam gejolak amarah, menurunkan tensi dan emosi” agar tercipta kedamaian dan kenyamanan dalam berinteraksi.
Doa tersebut juga meminta agar pemimpin dianugerahi kepekaan naluri dan keluasan rasa untuk mencari jalan keluar dari setiap persoalan yang ada. Ketika mediasi oleh DPRD dikabarkan belum membuahkan hasil, naskah doa ini menjadi pengingat keras bahwa tanpa kerendahan hati untuk menurunkan ego, jargon “Bergerak Bersama” hanya akan menjadi narasi sunyi di atas podium kehormatan.
Kontrol Sosial Tradisional Runtuh, Dompu Andalkan Kambeke Ana 21
Sekda NTB Kagum Atas Kemajuan Dompu
Sementara itu Sekda NTB, Abdul Chair yang hadir dalam HUT Dompu 2011 dalam sambutanya menyatakan kagum atas kemajuan daerah yang berlambang Nggahi Rawi Pahu tersebut. Menurut dia kemajuan tersebut adalah atas usaha dan kerja keras semua pihak.
Tema bergerak bersama Dompu Maju bukan sekedar slogan tetapi merupakan panggilan untuk bekerja lebih cepat dan panggilan untuk melayani lebih baik serta panggilan untuk memastikan bahwa pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat.
Dalam beberapa tahun terakhir Dompu menunjukan arah yang jelas PAD terus meningkat, layanan kesehatan hampir menjangkau seluruh masyarakat. dan tata kelola pemerintah yang semakin akuntabel.
”Ini bukan capaian kecil, tetapi pondasi dan harus membangun lompatan yang besar,” ungkapnya.
Dompu memiliki kekuatan yang besar, pertanian yang produksi, peternakan yang unggul, perikanan kaya serta sumber daya alam seperti Tambora yang mendunia. Menurut Sekda tidak hanya bangga memiliki potensi, tetapi harus mampu mengelolanya sebagai nilai tambah.
”Karena daerah yang maju bukan karena potensinya, tetapi karena mampu mengelolanya,” tegasnya. (Red)












