Ketika Kasus Camat Pajo Masuk Meja Komisi III DPR-RI (3)

Mengapa Banyak Orang Memilih Diam? Ketakutan Itu Nyata

Kasus Camat Pajo Dompu, dugaan pemerasan oleh Komisi III DPR-RI
Ilustrasi meja komisi III DPR-RI

DOMPU-“Jangan biarkan ini berhenti di sini.” Kalimat itu mudah diucapkan. Tapi tidak mudah dijalankan. Karena di balik setiap kasus seperti ini, selalu ada satu hal yang tidak terlihat yaitu ketakutan.

Takut berhadapan dengan aparat. Takut dipersulit dan takut justru menjadi pihak yang disalahkan. Dan ketakutan itu selama ini cukup berhasil membuat banyak orang memilih diam.

Ketika Kasus Camat Pajo Masuk Meja Komisi III DPR-RI (I)

Masalahnya, diam yang berulang akan berubah menjadi kebiasaan. Awalnya hanya satu orang, lalu dua, lalu banyak. Akhirnya, yang salah tidak perlu lagi bersembunyi, karena mereka tahu  tidak ada yang akan bicara.

Inilah titik paling berbahaya. Bukan ketika kesalahan terjadi, tetapi ketika kesalahan dibiarkan.

Harus diakui, posisi masyarakat tidak selalu setara, di satu sisi ada kekuasaan, di sisi lain ada warga biasa. Yang satu punya akses, yang lain punya risiko.

Maka wajar jika banyak yang memilih aman, tapi jika semua memilih aman,
lalu siapa yang akan membuka kebenaran?. Sejarah perubahan tidak pernah dimulai dari banyak orang. Selalu dari satu, satu yang berani bicara, satu yang berani membuka dan satu yang berani mengambil risiko, lalu yang lain mengikuti. Karena ternyata, keberanian itu menular.

Ketika Kasus Camat Pajo Masuk Meja Komisi III DPR-RI

Di sinilah negara seharusnya hadir, jika masyarakat diminta berani, maka aparat juga harus menjamin perlindungan. Tidak boleh ada intimidasi, tidak boleh ada balasan. dan tidak boleh ada pembungkaman.

Karena jika itu terjadi, maka pesan yang sampai ke publik hanya satu, lebih baik diam. Dan itu berbahaya. Kasus Camat Pajo sudah sampai ke meja Komisi III DPR RI. Artinya, perhatian sudah terbuka, momentum sudah ada.

Sekarang tinggal satu hal, apakah akan dilanjutkan sampai terang atau berhenti di tengah jalan? Jika berhenti, maka semua akan kembali seperti biasa, sunyi, diam, dan terlupakan.

Tapi jika dilanjutkan, maka ini bisa menjadi awal, awal dari keberanian, awal dari perubahan. Karena besok bisa siapa saja, hari ini mungkin camat, besok bisa siapa saja.

Dan ketika hari itu datang, kita akan bertanya pada diri sendiri, mengapa dulu kita memilih diam?. (Bersambung)

Kalau Anda mau, kita tutup dengan Bagian 4 (penutup keras):

👉 “Jika Ini Dibiarkan, Hukum Akan Kehilangan Makna”
👉 atau versi lebih tajam: “Hari Ini Pajo, Besok Giliran Siapa?”

Bagian penutup ini bisa dibuat sangat “menghantam” dan meninggalkan efek kuat.