Kemajuan Daerah dan Negara Bukan Ditentukan oleh Kekayaan Alam

Karikatur Dompu Maju

Ada sebuah paradoks yang terus berulang dalam sejarah. Banyak negara dan daerah yang dianugerahi sumber daya alam melimpah justru tertinggal, sementara wilayah kecil yang nyaris tidak memiliki apa-apa mampu menjelma menjadi pusat kemajuan dan kemakmuran.

Oleh : Abdul Muis-Dompubicara.

Kita mengenal Singapura sebagai salah satu negara paling maju di Asia. Negeri kecil itu tidak memiliki tambang besar, hutan luas, maupun lahan pertanian yang memadai. Bahkan, sebagian kebutuhan air bersihnya harus dipasok dari negara tetangga. Namun, keterbatasan tersebut tidak menghalangi mereka membangun ekonomi yang kuat, pendidikan yang unggul, serta tata kelola pemerintahan yang efisien.

Korea Selatan juga memberikan pelajaran penting. Enam dekade lalu, negara itu masih bergulat dengan kemiskinan pascaperang. Sumber daya alam yang dimiliki tidaklah istimewa. Namun, melalui investasi besar-besaran pada pendidikan, teknologi, industri, dan disiplin nasional, Korea Selatan berhasil menjelma menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.

Di sisi lain, Timor Leste memiliki cadangan minyak dan gas yang cukup besar. Akan tetapi, kekayaan tersebut belum sepenuhnya mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat secara merata. Ketergantungan yang tinggi pada sektor migas justru menjadi tantangan tersendiri dalam membangun ekonomi yang berkelanjutan dan menciptakan lapangan kerja di luar sektor pemerintah.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kekayaan alam bukanlah jaminan kemajuan. Para ekonom bahkan mengenalnya sebagai resource curse atau kutukan sumber daya alam, yakni keadaan ketika limpahan kekayaan justru melahirkan ketergantungan, konflik kepentingan, dan lemahnya inovasi.

Sesungguhnya, yang menentukan masa depan sebuah bangsa bukanlah apa yang berada di bawah tanah, melainkan apa yang berada di dalam kepala dan karakter manusianya.

Tambang Hu’u, Kewenangan di Jakarta, Masa Depan di Dompu

Ketika pendapatan daerah terlalu bergantung pada hasil alam, sering kali lahir mentalitas rente. Pemerintah menunggu transfer dan royalti, pelaku usaha menunggu proyek, sementara masyarakat berharap pada bantuan. Inovasi, kreativitas, dan semangat membangun daya saing perlahan melemah.

Padahal, sejarah menunjukkan bahwa kemajuan selalu bertumpu pada kualitas institusi dan sumber daya manusia. Negara-negara maju membangun sistem hukum yang dapat dipercaya, birokrasi yang profesional, pendidikan yang berkualitas, serta budaya kerja yang menghargai prestasi.

Pelajaran ini sangat relevan bagi Dompu. Daerah ini dianugerahi tanah yang subur, hasil pertanian yang melimpah, potensi pariwisata kelas dunia, serta peluang investasi pertambangan yang menjanjikan. Namun, sejarah banyak mengajarkan bahwa kekayaan alam tidak pernah menjadi jaminan kemajuan. Yang menentukan adalah kemampuan manusia mengelolanya dengan visi, integritas, dan keberpihakan kepada masa depan.

Pertanyaan yang patut kita renungkan adalah: ketika sumber daya itu suatu saat berkurang atau bahkan habis, apakah kita telah menyiapkan generasi yang lebih terdidik, lebih kreatif, dan lebih mandiri daripada hari ini?

Tambang suatu saat akan berhenti beroperasi. Hasil bumi dapat menurun. Harga komoditas selalu berubah mengikuti dinamika pasar dunia. Namun, manusia yang terdidik, berintegritas, dan kreatif akan tetap menjadi kekuatan yang tidak pernah habis.

Karena itu, ukuran kemajuan tidak boleh hanya dilihat dari besarnya investasi atau melimpahnya sumber daya yang dimiliki. Yang lebih penting adalah apakah kekayaan tersebut berhasil diubah menjadi sekolah yang lebih baik, layanan kesehatan yang lebih berkualitas, birokrasi yang bersih, dan masyarakat yang semakin mandiri.

Dompu 2045, Tambang Hu’u, Harapan Baru Atau Peluang Yang Terlewatkan?

Bagi daerah-daerah yang tengah menyambut investasi besar, pelajaran ini menjadi sangat penting. Kekayaan alam hanyalah titipan zaman. Ia bisa habis, berpindah tangan, atau kehilangan nilainya. Yang akan tetap bertahan adalah kualitas manusia, kekuatan institusi, dan budaya kerja yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pada akhirnya, sejarah mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi mendasar: Tuhan mungkin memberikan kekayaan alam sebagai anugerah, tetapi masa depan sebuah bangsa tetap ditentukan oleh kualitas manusia yang mengelolanya.

Karena itu, pertanyaan sesungguhnya bukanlah seberapa kaya sumber daya yang kita miliki, melainkan seberapa bijak kita mengubah kekayaan tersebut menjadi pendidikan yang bermutu, tata kelola yang bersih, dan peradaban yang lebih maju serta berkeadilan.

Di situlah letak perbedaan antara daerah yang sekadar kaya dan masyarakat yang benar-benar maju. (*)