Lapangan Transad yang biasanya menjadi ruang terbuka hijau yang tenang, belakangan ini berubah riuh. Kehadiran pasar malam memang membawa angin segar bagi ekonomi kecil, namun ada sebuah noktah hitam yang luput dari perhatian penyelenggara, polusi suara yang tidak beradab.
Seorang ibu rumah tangga bernama Chika SuciKurnia mengeluh dengan nada getir diakun Facebooknya. Bukan suara musik riang atau tawa pengunjung yang ia dengar di rumahnya, melainkan suara speaker yang meraung-raungkan tangisan kuntilanak, tawa hantu yang menyayat, hingga rintihan makhluk halus. Sebuah strategi promosi “rumah hantu” yang justru menebar teror ke rumah-rumah warga.
Matahari Kembar di Daerah, Boros Anggaran, Hanya Bikin Gaduh Rakyat!
“Anak-anak kami ketakutan di dalam rumah,” ungkapnya. Kalimat ini seharusnya menjadi tamparan bagi panitia. Rumah yang seharusnya menjadi benteng perlindungan dan ketenangan bagi anak-anak, kini ditembus oleh frekuensi suara yang traumatis.
Secara psikologis, paparan suara audio horor yang terus-menerus pada anak usia dini dapat memicu gangguan kecemasan dan ketakutan irasional. Apakah keuntungan dari tiket masuk “rumah hantu” sebanding dengan trauma psikologis yang harus ditanggung anak-anak di sekitar lapangan?
Etika Ruang Publik. Pasar malam adalah bagian dari budaya kita, namun ia tidak boleh berdiri di atas penderitaan batin warga sekitar. Menggunakan speaker besar untuk memutar suara “setan” di tengah pemukiman warga adalah bentuk pengabaian terhadap etika bertetangga.
Alih-alih mengundang kengerian, bukankah jauh lebih teduh jika pengeras suara itu memutar sholawat atau musik yang membangun suasana gembira? Atau, jika memang tidak bisa memberikan keteduhan, mematikan speaker tersebut adalah pilihan yang jauh lebih terhormat daripada terus-menerus “mengundang setan” ke telinga warga.
Karena itu izin keramaian yang diberikan oleh otoritas setempat seharusnya tidak hanya mengatur soal keamanan fisik, tetapi juga kenyamanan lingkungan. Panitia pasar malam di Lapangan Transad harus segera berbenah.
Jangan biarkan niat mencari rezeki justru meninggalkan jejak kebencian di hati para ibu rumah tangga dan ketakutan di mata anak-anak. Lapangan Transad milik bersama, jangan biarkan ia berubah menjadi “ladang teror” suara di malam hari. (*)













