Di Balik Kegelapan Tambora 1815, Ada Cahaya yang Kembali

Bibir Kaldera Gunung Tambora
Foto : Ir Hendri Atrimus,MBA saat berada dibibir Kaldera Gunung Tambora Dompu

Membaca serial dompubicara.com yang dengan sangat apik menggambarkan betapa mencekamnya malam pada April 1815. Malam ketika langit dunia mendadak gulita, ketika dentuman Tambora membelah lautan hingga ribuan kilometer, dan ketika abu vulkaniknya menghalangi cahaya matahari, mengubah perjalanan sejarah umat manusia.

Oleh: Ir. Hendri Atrimus, MBA

Kisah itu, kita diajak membayangkan betapa kecilnya manusia di hadapan kekuatan alam.

Namun ketika saya berdiri untuk kedua kalinya di bibir Kaldera Tambora, sekitar lima tahun lalu, menatap jurang raksasa yang membentang sunyi di bawah kaki, pikiran saya justru melayang ke sebuah pertanyaan sederhana: apa yang terjadi setelah semua kegelapan itu berlalu?

Bagi saya, kisah Tambora tidak berhenti pada malam ketika langit menjadi gelap. Justru di sanalah babak baru kehidupan dimulai.

Sejauh Mana Kegelapan Mampu Bertahan?
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Dompu pada 1992, meninggalkan dinginnya lereng Gunung Singgalang di kampung halaman saya di Agam, Sumatera Barat, saya belajar memahami bahasa alam yang berbeda.

Di Singgalang, gunung mengajarkan tentang kesejukan dan kesuburan.

Di Tambora, gunung mengajarkan sesuatu yang lebih dalam: kehidupan selalu bergerak dalam siklus kehilangan dan kelahiran kembali.

Sejarah mencatat tahun 1815 sebagai masa ketika dunia mengalami The Year Without a Summer. Eropa dilanda gagal panen, Amerika Utara mengalami cuaca ekstrem, dan kerajaan-kerajaan di sekitar Tambora runtuh diterjang letusan dahsyat.

Dunia mengenangnya sebagai tragedi.

Tetapi setelah lebih dari tiga dekade menjadikan Dompu sebagai rumah, saya melihat kisah itu dari sudut yang berbeda.

Malam itu memang gelap.

Namun kegelapan tidak pernah abadi.

Abu yang menutupi langit akhirnya kembali ke bumi. Ia meresap ke dalam tanah, menjadi bagian dari kehidupan baru.

Kerajaan memang lenyap. Permukiman memang musnah. Namun bumi tempat semuanya berpijak tidak pernah benar-benar mati.

Dari tanah yang pernah dipenuhi abu itulah, tumbuh kehidupan yang hari ini memberi makan generasi-generasi masyarakat Dompu.

Yang Tak Terlihat dari Bibir Kaldera
Bagi mereka yang mengenal Tambora hanya melalui buku sejarah, April 1815 adalah kisah tentang kiamat kecil.

Namun bagi mereka yang pernah berdiri di bibir kalderanya, merasakan angin yang berembus dari kawah raksasa itu, kisah tersebut menghadirkan makna yang berbeda.

Saya merasakannya sendiri.

Saat angin dingin menerpa wajah saya, mengingatkan pada masa kecil di lereng Singgalang, saya menyadari satu pelajaran penting:

Alam tidak pernah benar-benar memusnahkan. Alam hanya sedang menata ulang kehidupannya.

Di tempat yang dua abad lalu dibakar jutaan ton material vulkanik, kini terbentang padang savana yang memesona. Hutan kembali menghijau. Satwa liar kembali menemukan rumahnya. Kabut pagi menari pelan di antara pepohonan, seolah menghapus luka yang pernah ditinggalkan sejarah.

Tambora 1815: Malam Ketika Langit Dunia Menjadi Gelap

Tambora mengajarkan bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya.

Menatap Tambora dengan Ketenangan Jiwa
Apabila seri kedua tulisan Dompubicara mengajak kita menyaksikan betapa dahsyatnya malam ketika langit menjadi gelap, maka saya ingin mengajak pembaca melihat sisi lain dari gunung yang sama.

Saya mengenal Tambora bukan sebagai gunung yang menakutkan atau menyimpan dendam masa lalu.

Bagi saya, Tambora adalah raksasa yang kini beristirahat dengan tenang setelah menyelesaikan salah satu tugas terbesar dalam sejarah bumi.

Ia mengingatkan kita bahwa alam memiliki kekuatan untuk menghancurkan, tetapi juga memiliki kemampuan yang luar biasa untuk memulihkan dirinya sendiri.

Malam tahun 1815 memang pernah membuat dunia menjadi gelap.

Namun dari puncak kalderanya hari ini, Tambora mengajarkan satu harapan yang tak lekang oleh waktu:

Setebal apa pun abu yang menutupi langit, fajar akan selalu menemukan jalannya untuk kembali menyinari bumi.

Dan mungkin, itulah pelajaran terbesar yang diwariskan Tambora kepada kita semua. (*)