Malam itu seharusnya sama seperti malam-malam sebelumnya. Angin bertiup pelan dari Laut Flores. Langit di atas Pulau Sumbawa dipenuhi bintang. Di lereng Tambora, masyarakat menutup hari setelah bekerja di ladang dan kebun. Anak-anak terlelap, para nelayan menambatkan perahu, sementara para pedagang bersiap menyambut hari berikutnya.
Oleh: Abdul Muis
Tak seorang pun membayangkan bahwa malam itu akan menjadi batas antara sebuah peradaban yang hidup dan sebuah sejarah yang terkubur.
Alam sebenarnya telah memberi tanda.
Beberapa bulan sebelumnya, Gunung Tambora mulai menunjukkan kegelisahannya. Getaran-getaran kecil semakin sering terasa. Asap putih keabu-abuan membubung dari puncak. Sesekali terdengar suara gemuruh dari dalam perut bumi. Namun pada awal abad ke-19, ilmu pengetahuan tentang gunung api belum berkembang seperti sekarang. Bagi masyarakat kala itu, gejala tersebut hanyalah bagian dari kehidupan yang telah lama berdampingan dengan gunung.
Lalu datanglah tanggal 5 April 1815.
Menjelang malam, Tambora melepaskan letusan besar pertamanya. Dentuman keras menggetarkan udara hingga ratusan kilometer jauhnya. Di Jawa, sejumlah pejabat kolonial dan armada Inggris mengira suara itu berasal dari tembakan meriam. Mereka menduga sebuah peperangan besar sedang berlangsung di wilayah timur Nusantara. Pasukan disiagakan. Kapal-kapal diperintahkan mencari sumber ledakan.
Namun tidak ada peperangan.
Yang sebenarnya sedang terjadi adalah sebuah gunung di Pulau Sumbawa sedang membuka babak paling dahsyat dalam sejarah manusia modern.
Lima hari kemudian, pada 10 April 1815, bumi seakan kehilangan keseimbangannya.
Ledakan yang jauh lebih besar mengguncang kawasan Tambora. Kolom abu membubung lebih dari 40 kilometer ke atmosfer. Batu pijar menghujani lereng gunung. Awan panas meluncur dengan kecepatan tinggi, melahap hutan, permukiman, sawah, kebun, ternak, dan segala kehidupan di jalurnya.
Di pesisir, gelombang tsunami menerjang beberapa kawasan, memperparah bencana yang telah berlangsung.
Lalu sesuatu yang belum pernah disaksikan manusia terjadi.
Siang berubah menjadi malam.
Abu vulkanik menutupi langit begitu tebal hingga matahari menghilang. Dalam berbagai kesaksian pelaut dan pejabat kolonial, kegelapan menyelimuti kawasan sekitar selama berhari-hari. Lampu minyak dan obor menjadi satu-satunya penerang, bahkan ketika seharusnya matahari berada tepat di atas kepala.
Bagi mereka yang hidup saat itu, dunia seakan telah berakhir.
Di lereng Tambora berdiri kerajaan-kerajaan yang menjadi bagian penting dari sejarah Pulau Sumbawa. Letusan besar itu bukan hanya menghancurkan rumah, lumbung, dan permukiman, tetapi juga menghapus bahasa, tradisi, naskah, serta jejak kehidupan yang diwariskan turun-temurun. Sebuah peradaban lenyap di bawah lapisan abu vulkanik, meninggalkan sedikit sekali saksi yang mampu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Namun kisah Tambora tidak berhenti di Pulau Sumbawa.
Material vulkanik yang terlontar ke atmosfer menyebar jauh melintasi lautan. Partikel-partikel halus itu bertahan di lapisan atas atmosfer dan mengurangi intensitas sinar matahari yang mencapai permukaan bumi.
Setahun kemudian, dunia mengalami peristiwa yang kini dikenal sebagai The Year Without a Summer atau Tahun Tanpa Musim Panas.
Di Eropa, tanaman pangan gagal dipanen. Di Amerika Utara, salju turun pada musim panas. Harga pangan melonjak tajam. Kelaparan melanda berbagai wilayah. Wabah penyakit merebak. Gelombang migrasi terjadi di banyak tempat.
Sebuah letusan yang terjadi di Pulau Sumbawa ternyata mampu mengubah kehidupan manusia di berbagai benua.
Hingga hari ini, para ilmuwan masih mempelajari Tambora untuk memahami hubungan antara letusan gunung api, atmosfer, dan perubahan iklim global. Tambora menjadi salah satu bukti paling nyata bahwa bumi adalah satu sistem yang saling terhubung. Apa yang terjadi di sebuah pulau kecil dapat memberi dampak hingga ribuan kilometer jauhnya.
Lebih dari dua abad telah berlalu.
Di puncak Tambora kini terbentang kaldera raksasa yang tenang. Savana menghijau kembali. Hutan tumbuh lebat. Satwa liar menjadikan kawasan ini rumahnya. Alam menunjukkan kemampuannya untuk pulih, tetapi ia tidak pernah menghapus jejak sejarah yang pernah ditorehkannya.
Tambora masih berdiri.
Diam.
Namun diam itu bukan berarti selesai.
Ia seolah mengingatkan manusia bahwa di balik keindahannya tersimpan kekuatan yang pernah mengubah langit, mengubah iklim, dan mengubah perjalanan peradaban dunia.
KOTAK FAKTA
Tambora 1815 dalam Angka
Lokasi: Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Tanggal letusan utama: 10 April 1815.
Skala letusan: VEI 7, salah satu letusan terbesar dalam sejarah modern.
Ketinggian sebelum letusan: diperkirakan sekitar 4.300 meter.
Ketinggian saat ini: sekitar 2.850 meter.
Diameter kaldera: sekitar 6–7 kilometer.
Kedalaman kaldera: sekitar 600–700 meter.
Kolom erupsi: diperkirakan lebih dari 40 kilometer.
Korban jiwa: diperkirakan mencapai puluhan ribu orang akibat letusan, kelaparan, dan penyakit pascabencana.
TIMELINE
1812
Aktivitas vulkanik mulai meningkat.
1813–1814
Gempa kecil dan suara gemuruh semakin sering terdengar.
5 April 1815
Letusan besar pertama. Dentumannya terdengar hingga Jawa dan sempat disangka suara meriam.
10 April 1815
Puncak letusan. Awan panas, hujan abu, lontaran batu pijar, dan tsunami melanda.
11–17 April 1815
Abu vulkanik terus keluar dan menyelimuti kawasan sekitar.
1816
Dunia mengalami The Year Without a Summer (Tahun Tanpa Musim Panas).
TAHUKAH ANDA?
Ketika letusan pertama terjadi pada 5 April 1815, pemerintah kolonial Inggris di Jawa mengira suara ledakan berasal dari tembakan meriam sehingga sempat menyiagakan pasukan. Setelah dilakukan penyelidikan, baru diketahui bahwa sumber dentuman tersebut berasal dari Gunung Tambora yang berjarak ratusan kilometer.
“Ketika Tambora meletus, yang hilang bukan hanya sebuah gunung. Yang berubah adalah langit dunia.”
Bersambung…
Serial Tambora Bagian III
“Kerajaan yang Hilang di Lereng Tambora”
Benarkah pernah berdiri sebuah kerajaan yang makmur di kaki Tambora? Mengapa bahasa, budaya, dan peradabannya ikut lenyap bersama letusan tahun 1815? Pada bagian berikutnya kita akan menelusuri jejak sebuah kerajaan yang hingga kini masih menyimpan banyak misteri.
Tambora belum selesai bercerita. (Redaksi)













