DOMPUBICARA – Medali emas adalah kebanggaan setiap atlet. Namun, di balik prestasi itu, terkadang tersimpan pengorbanan yang baru terasa puluhan tahun kemudian.
Pengalaman itulah yang dibagikan H. Syai’un, S.H., M.Si., mantan Pelaksana Tugas (PLT) Sekretaris Daerah Kabupaten Dompu yang pada masanya dikenal sebagai atlet Kempo berprestasi.
Di usia 62 tahun, ia mengaku tengah fokus menjalani perawatan pada kaki, engkel, dan lutut kanannya. Cedera yang dialaminya saat bertanding sekitar 30 tahun lalu kini mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
“Saya lagi fokus merawat kaki dan engkel lutut yang saat dulu jadi atlet sempat keluar yang kanan. Saat itu final Kejuarda randori kelas bebas 70 kg ke atas melawan Putu Suartawan pemegang dan lima pada tahun 1996. Setelah umur 62 tahun baru mulai merasa mengganggu jalan,” tuturnya.
Bonus Atlet Dibayar 2027, ‘Maki Ngena’
Cedera itu terjadi saat partai final randori kelas bebas. Meski mengalami cedera serius, semangat bertanding membawanya tetap menyelesaikan pertandingan dan meraih medali emas.
Kini, kemenangan yang dahulu menjadi kebanggaan justru menyisakan pelajaran berharga. Cedera yang saat itu dianggap telah berlalu ternyata kembali “berbicara” ketika usia memasuki kepala enam.
Pengalaman tersebut menjadi pesan penting bagi para atlet muda. Menurut H. Syai’un, setiap cedera harus ditangani secara serius. Pemeriksaan medis, rehabilitasi yang tuntas, dan pemulihan yang cukup tidak boleh diabaikan hanya demi mengejar prestasi.
Dalam dunia olahraga, cedera pada lutut, engkel, maupun ligamen memang kerap baru menunjukkan dampaknya setelah bertahun-tahun. Saat usia masih muda, kondisi fisik yang prima sering kali menutupi gangguan tersebut. Namun, ketika usia bertambah, keluhan nyeri, kekakuan sendi, hingga gangguan berjalan dapat muncul akibat trauma lama.
Karena itu, pembinaan atlet tidak cukup hanya mengejar medali. Perlindungan terhadap kesehatan atlet setelah masa kompetisi juga harus menjadi perhatian. Prestasi memang membanggakan, tetapi kesehatan adalah modal yang harus dijaga sepanjang hidup.
Kisah H. Syai’un menjadi pengingat bahwa setiap medali memiliki harga. Semoga pengalaman seorang peraih emas ini menjadi pelajaran berharga bagi generasi atlet berikutnya agar tetap berprestasi tanpa mengabaikan kesehatan tubuh yang akan menemani mereka hingga usia senja. (yus)








