Jangko Mbolo Weki Habis di Rumah Janda

Jangko Habis dirumah janda
Karikatur Jangko

DOMPU-Mbolo Weki adalah tradisi yang hidup dan berkembang di masyarakat Dompu-Bima. Warga saling membantu dan dicatatkan nilai nominalnya, pulang biasanya diberi Jangko untuk anak istri dirumah, tapi bagi Hamazale ia habiskan dirumah janda.

Prahara Porprov: Bonus Emas Belum Dapat, Hama Sudah Dilarang Pulang

Kalau musim hajatan tiba, kampung hampir tidak pernah tidur lebih awal.  Setelah salat Isya, warga mulai berdatangan ke rumah yang menggelar Mbolo Weki, umumnya bapak-bapak sementara ibu-ibu tunggu jangko dirumah.

Bagi kaum perempuan, ada satu hal yang selalu dinanti.

Jangko.

Bukan karena lapar.

Tapi karena besok pagi selalu ada “rapat tidak resmi” di beranda rumah.

Malam itu Hama tengah bersiap berangkat.

Sebelum keluar rumah, Muna berpesan.

“Hama…”

“Iya.”

“Pulang langsung.”

“Iya.”

“Jangan keluyuran.”

“Iya.”

“Dan jangan lupa bawa jangko.”

Hama tersenyum.

“Memangnya kamu suka kuenya?”

Muna ikut tersenyum.

“Bukan.”

“Terus?”

“Besok pagi saya ditanya ibu-ibu.”

Hama tertawa.

“Ditanya apa?”

“‘Dapat kue apa?'”

“‘Banyak tidak?'”

“‘Enak tidak?'”

“Kalau saya tidak bawa jangko, saya jawab apa?”

Hama mengangguk.

“Iya… iya…”

Mbolo Weki selesai hampir pukul sebelas malam.

Saat hendak pulang, Hama menerima satu bungkus jangko.

Di dalamnya ada beberapa potong kue dan segelas air minum kemasan.

Baru beberapa langkah berjalan, Dae la One memanggil.

“Hama… singgah dulu.”

“Ke mana?”

“Rumah Ina Mpoa.”

“Ngapain?”

“Ngopi.”

“Sebentar saja?”

“Sebentar.”

Begitu masuk, ternyata sudah ada beberapa bapak-bapak yang juga baru pulang Mbolo Weki.

Kopi diseduh.

Obrolan mengalir.

Ada yang cerita panen jagung.

Ada yang cerita harga sapi.

Ada yang membahas pertandingan bola.

Tiba-tiba seseorang berkata,

“Daripada kuenya besok keras, habiskan saja.”

Satu per satu jangko dibuka.

Hama ikut membuka.

Bolu habis.

Onde-onde habis.

Kue lapis habis.

Yang tersisa hanya segelas air minum.

Hama tertawa.

“Untung masih ada.”

Hampir tengah malam Hama tiba di rumah.

Muna masih duduk menunggu.

“Mana jangkonya?”

Hama menyerahkan kantong plastik.

Muna membukanya.

Ia terdiam.

“Cuma air gelas?”

“Iya.”

“Kuenya?”

“Habis.”

“Habis di mana?”

“…di rumah Ina Mpoa.”

Muna langsung menatap Hama.

“Rumah janda itu?”

“Iya… tapi ramai.”

“Ramai siapa?”

“Bapak-bapak yang baru pulang Mbolo Weki.”

Muna menggeleng pelan.

“Kamu ini…”

“Kenapa?”

“Kalau dengar kata ngopi…”

“…jalan pulangmu selalu berbelok.”

Pagi harinya, seperti dugaan Muna, ibu-ibu sudah berkumpul.

“Muna… semalam dapat jangko apa?”

Muna tersenyum tipis.

“Air gelas.”

“Lho… kuenya?”

“Sudah diperiksa Hama semalam.”

Semua tertawa.

Salah seorang ibu langsung bercanda.

“Berarti benar…”

“Yang paling berat dari jangko memang air gelasnya.”

Yang lain menyambung,

“Kuenya cuma numpang lewat.”

Tawa kembali pecah.

Muna ikut tertawa.

“Saya sebenarnya tidak marah karena kuenya habis.”

“Lalu?”

“Saya kehilangan bahan rapat pagi.”

Dari balik pintu, Hama yang mendengar percakapan itu hanya menggaruk kepala.

Baru kali itu ia sadar.

Bagi laki-laki, jangko hanyalah oleh-oleh.

Tapi bagi ibu-ibu kampung…

Jangko adalah pembuka obrolan yang bisa menghangatkan kopi pagi.

Dan sejak malam itu, setiap Hama berangkat Mbolo Weki, pesan Muna selalu sama.

“Boleh ngopi.”

“Boleh singgah.”

“Tapi kalau jangko tidak sampai ke rumah…”

“…yang jadi bahan gosip besok bukan jangkonya.”

“…kamu.” (Redaksi)

PRAHARA adalah cerita ringan yang terinspirasi dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bima dan Dompu. Tokoh dan peristiwa merupakan karya fiksi. Tradisi Mbolo Weki diangkat sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya gotong royong dan kebersamaan yang masih hidup di tengah masyarakat.