Prahara Porprov: Bonus Emas Belum Dapat, Hama Sudah Dilarang Pulang

Hama Dilarang Pulang
Ilustrasi Hama dan Muna

DOMPUBICARA.COM – Mataram masih menjadi medan perjuangan para atlet yang berlaga pada Porprov NTB. Ada yang berhasil melaju ke babak berikutnya, ada pula yang harus mengubur impian meraih medali emas. Namun bagi Hamazale, lawan terberat justru bukan atlet di arena pertandingan.

Lawan paling berat itu sedang menunggu di Dompu.

Namanya Muna.

Hamazale, yang sehari-hari dipanggil Hama, sudah tiga kali membuka daftar panggilan di telepon genggamnya.

Nama yang muncul tetap sama.

Muna Sayang.

Sudah tiga kali pula dia mengurungkan niat menekan tombol hijau.

“Kalau saya angkat sekarang, bisa-bisa kalah dua kali,” gumam Hama sambil memandangi langit Mataram.

Yang pertama kalah di arena pertandingan.

Yang kedua… kalah menghadapi Muna.

Gara-Gara Sambal, Hamazale Tidur di Berugak

Sejak namanya masuk dalam kontingen Porprov NTB, Muna sebenarnya tidak terlalu setuju Hama berangkat.

Bukan karena tidak mendukung suaminya.

Melainkan karena beberapa kali ikut pertandingan, Hama selalu pulang hanya membawa tas, bukan prestasi.

“Sudah berapa kali ikut. Pulangnya cuma cerita,” celetuk Muna beberapa hari sebelum keberangkatan.

Hama tersenyum percaya diri.

“Kali ini beda.”

“Apa bedanya?”

“Kalau saya dapat emas, bonusnya dua puluh juta.”

Mata Muna langsung membesar.

“Serius?”

“Iya. Pemerintah daerah sudah janji.”

Sejak mendengar angka Rp20 juta, sikap Muna berubah seratus delapan puluh derajat.

Biasanya Hama disuruh mengangkat karung jagung.

Kini dilarang.

Biasanya Hama disuruh memperbaiki pagar.

Kini disuruh istirahat.

Biasanya disuruh kejar kambing.

Kini dicegah, takut terpeleset.

“Jangan cedera. Kamu atlet sekarang,” kata Muna sambil menyodorkan secangkir kopi.

Hama pun berangkat ke Mataram dengan semangat menggebu.

Sementara di Dompu, Muna mulai menyusun rencana besar.

Lima juta untuk melunasi utang di warung.

Empat juta membayar pinjaman kepada rentenir yang bunganya mulai membuat tidur tidak nyenyak.

Tiga juta memperbaiki atap dapur yang bocor sejak musim hujan.

Dua juta membeli kulkas bekas yang sudah lama diincar.

Sisanya ditabung untuk biaya sekolah anak.

Semuanya sudah dihitung.

Yang belum ada…

Hanya medali emas.

Pertandingan akhirnya berlangsung.

Hama mengerahkan seluruh tenaga.

Keringat bercucuran.

Sorak-sorai penonton memenuhi arena.

Namun hari itu keberuntungan belum berpihak kepadanya.

Lawan tampil lebih baik.

Impian membawa pulang medali emas harus tertunda.

Yang membuat Hama gelisah bukan hasil pertandingan.

Melainkan telepon dari Dompu yang sejak tadi terus berdering.

Akhirnya, dengan keberanian yang tinggal separuh, Hama menekan tombol panggil.

“Assalamu’alaikum…”

Belum sempat salamnya selesai.

“Alhamdulillah… dapat emas, kan?” suara Muna terdengar penuh semangat.

Hama menelan ludah.

“Begini, Muna…”

“Bonusnya kapan dibayar?”

“Muna…”

“Saya tadi sudah bilang sama yang punya warung, minggu depan utang kita lunas.”

Hama diam.

“Saya juga sudah minta waktu sama rentenir. Katanya boleh dibayar minggu depan.”

Hama tetap diam.

“Kulkas bekas yang saya lihat di pasar juga masih ditahan penjualnya.”

Hama memejamkan mata.

“Muna…”

“Iya?”

“Emasnya… dibawa orang lain.”

Mendadak sunyi.

Hama sampai melihat layar telepon.

Disangkanya sinyal putus.

Ternyata bukan.

Yang putus…

Harapan Muna.

Beberapa detik kemudian terdengar suara pelan.

“Jadi… utang warung belum bisa dibayar?”

“Belum.”

“Rentenir juga belum?”

“Belum.”

“Atap dapur masih bocor?”

“Iya.”

“Kulkas?”

“Masih di pasar.”

Sunyi lagi.

Menurut pengalaman Hama, kalau Muna sudah bicara pelan seperti itu, biasanya badai tinggal menunggu hitungan detik.

Benar saja.

“Hama!”

“Iya…”

“Kalau pulang ke Dompu nanti…”

“Iya…”

“Jangan langsung pulang ke rumah!”

Hama melongo.

“Lho… terus ke mana?”

“Cari dulu bonus dua puluh juta itu!”

“Lha… bonus dari mana?”

“Itu urusanmu!”

Tut…

Telepon langsung terputus.

Hama hanya bisa memandangi layar telepon.

Di arena pertandingan dia memang belum berhasil meraih kemenangan.

Tetapi kini dia sadar, pertandingan yang paling berat justru menantinya saat pulang ke Dompu.

Sebab lawan di arena hanya ingin merebut medali.

Sedangkan Muna…

Sudah lebih dulu membelanjakan bonusnya. (Redaksi)

Cerita ini tidak menggambarkan orang tertentu dan disajikan semata-mata sebagai hiburan. Apabila terdapat kemiripan dengan kehidupan nyata, hal tersebut merupakan kebetulan belaka.