DOMPUBICARA-Peluit panjang baru saja berbunyi. Inggris kalah. Beberapa menit kemudian, media sosial berubah. Yang semalam masih memasang foto profil dengan jersey putih berlambang Tiga Singa, pagi ini sudah mengenakan garis biru-putih Argentina.
Status pun berubah. “Hidup Argentina…” Saya tersenyum. Bukan karena Argentina menang. Tetapi karena saya sadar, Piala Dunia selalu melahirkan satu tradisi yang tidak pernah tertulis dalam aturan FIFA.
Tradisi lompat pagar. Bukan pagar stadion. Melainkan pagar kesetiaan. Begitu tim jagoan tersingkir, sebagian orang seperti menemukan pintu baru. Mereka berpindah ke kubu yang masih bertahan. Tidak sedikit yang sehari sebelumnya mengejek, meremehkan, bahkan mengolok-olok tim yang kini mereka dukung.
Sepak bola memang aneh. Dalam hitungan menit, warna jersey bisa berubah. Saya tidak mengatakan itu salah. Mendukung siapa pun adalah hak setiap orang. Sepak bola diciptakan untuk dinikmati, bukan untuk membatasi pilihan.
Argentina Tekuk Inggris 2-1, Bangkit di Menit Akhir
Namun fenomena ini menarik untuk direnungkan. Ada pendukung yang tetap mengenakan jersey timnya meski pulang lebih awal. Mereka kecewa, tetapi tidak berpindah.
Ada pula yang sejak awal lebih memilih berada di pihak yang menang. Ketika Brasil tersingkir, mereka menjadi pendukung Spanyol. Ketika Spanyol kalah, mereka beralih ke Argentina. Besok, jika Argentina kalah, mungkin jersey itu akan berganti lagi.
Mungkin bukan kesetiaan yang mereka cari. Mungkin mereka hanya ingin terus merasakan euforia kemenangan. Media sosial membuat fenomena ini semakin mudah terlihat.
Dulu, orang berpindah dukungan hanya diketahui teman di warung kopi. Hari ini, jejak digital menyimpan semuanya. Status lama masih ada. Komentar lama masih bisa dibuka. Meme yang kemarin dipakai untuk mengejek, hari ini berubah menjadi ucapan selamat.
Lucunya, ada yang ikut memindahkan sejarah. Kemarin berkata, “Messi sudah habis.” Hari ini menulis, “Saya memang dari dulu penggemar Messi.”
Sepak bola memang memberi ruang untuk berubah pikiran. Tetapi mengubah cerita adalah hal yang berbeda. Saya tidak mempermasalahkan orang yang berganti dukungan.
Yang menarik justru adalah alasan di balik perpindahan itu. Apakah karena jatuh cinta pada cara bermain sebuah tim? Apakah karena kagum pada sportivitas para pemainnya?
Ataukah semata-mata karena tidak ingin berada di pihak yang kalah? Jawabannya tentu berbeda-beda. Namun di situlah sepak bola menjadi cermin kehidupan.
Kesetiaan selalu mudah diucapkan ketika semuanya berjalan baik. Nilainya baru terlihat ketika keadaan berubah. Mendukung tim yang sedang menang memang menyenangkan.
Tetapi tetap berdiri di belakang tim yang kalah sering kali membutuhkan keberanian yang lebih besar. Itulah sebabnya saya selalu menghormati mereka yang tetap mengenakan jersey lamanya, meski tim kesayangannya sudah lebih dulu pulang.
Mereka mungkin kehilangan kesempatan merayakan kemenangan. Tetapi mereka tidak kehilangan identitasnya sebagai pendukung. Pada akhirnya, sepak bola bukan hanya soal siapa yang mengangkat trofi.
Ia juga mengajarkan bagaimana menerima kekalahan, menghargai lawan, dan menjaga kesetiaan tanpa harus membenci mereka yang berbeda pilihan.
Besok pagi media sosial mungkin kembali dipenuhi jersey dengan warna baru.
Tidak apa-apa.
Karena begitulah Piala Dunia. Pertandingannya hanya berlangsung sembilan puluh menit. Tetapi tradisi lompat pagar sudah berlangsung puluhan tahun.
Dan sepertinya, tradisi itu akan selalu hadir setiap kali peluit panjang dibunyikan.
Trofi memang hanya satu. Tetapi kesetiaan seharusnya tidak ikut berganti bersama warna jersey. (*)












