11 Kasus HIV Ditemukan di RSUD Dompu, Begini Penanganannya

Ilustrasi penanganan HIV

DOMPU — Sebanyak 11 pasien HIV ditemukan dan mendapatkan penanganan di RSUD Dompu hingga Juni 2026. Temuan ini terungkap melalui pemeriksaan dan skrining, termasuk terhadap pasien yang datang dengan keluhan tuberkulosis (TBC).

Yang menjadi perhatian, pasien yang dinyatakan positif HIV tidak berhenti pada diagnosis. RSUD Dompu memastikan mereka mendapatkan layanan konseling, pengobatan antiretroviral (ARV), pemeriksaan medis, serta pendampingan secara berkelanjutan untuk menjaga kualitas hidup dan menekan risiko penularan lebih lanjut. (RRI.co.id)

Direktur RSUD Dompu, dr. Fitratul Ramadhan, Sp.P, mengatakan 11 pasien yang ditemukan tersebut terdiri dari delapan laki-laki dan tiga perempuan. Seluruhnya merupakan pasien dewasa dan tidak ditemukan kasus pada anak dalam kelompok pasien yang ditangani tersebut. (RRI.co.id)

Datang karena TBC, HIV Justru Terungkap
Penemuan tersebut memperlihatkan bagaimana penyakit lain dapat menjadi pintu masuk untuk menemukan HIV yang sebelumnya tidak diketahui.

Fitratul menjelaskan, pemeriksaan HIV terhadap pasien TBC dilakukan sebagai bagian dari prosedur pelayanan kesehatan. Pasien yang memiliki faktor risiko atau indikasi medis menjalani pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui kemungkinan adanya infeksi HIV.

Dari proses skrining dan pemeriksaan tersebut, 11 orang kemudian dinyatakan positif HIV. (RRI.co.id)

Kondisi ini menunjukkan pentingnya deteksi dini. Seseorang yang datang ke rumah sakit belum tentu mengetahui bahwa dirinya terinfeksi HIV. Keluhan yang dirasakan bisa berasal dari penyakit lain, sementara infeksi HIV baru diketahui setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Karena itu, pemeriksaan pada kelompok atau pasien dengan indikasi tertentu menjadi salah satu bagian penting dalam pengendalian HIV.

Setelah Positif, Pasien Tetap Didampingi
Bagi pasien yang telah dinyatakan positif HIV, penanganan tidak berhenti pada pemberitahuan hasil pemeriksaan.

RSUD Dompu memberikan layanan konseling, pemeriksaan laboratorium, konsultasi dokter, terapi ARV, pemantauan kondisi secara berkala, serta pendampingan agar pasien tetap menjalani pengobatan secara rutin. (Antara News Mataram)

Terapi antiretroviral menjadi bagian penting dalam pengobatan HIV. Pengobatan tersebut bertujuan menekan jumlah virus di dalam tubuh sehingga kondisi kesehatan pasien dapat dipertahankan dan risiko penularan dapat ditekan.

Karena itu, kepatuhan pasien menjalani terapi menjadi bagian penting dari keberhasilan pengobatan.

Di sinilah penanganan HIV memiliki dimensi yang lebih luas. Menemukan pasien hanyalah tahap awal. Tantangan berikutnya adalah memastikan pasien tetap berada dalam layanan kesehatan dan konsisten menjalani pengobatan.

11 Kasus Belum Menggambarkan Seluruh Kondisi
Jumlah pasien yang ditemukan RSUD Dompu juga tidak serta-merta menggambarkan keseluruhan kasus HIV yang ada di masyarakat.

Fitratul mengibaratkan kondisi HIV/AIDS di Dompu seperti fenomena gunung es. Kasus yang berhasil ditemukan melalui layanan kesehatan kemungkinan baru merupakan sebagian dari kondisi sebenarnya. (RRI.co.id)

Ada kemungkinan orang yang terinfeksi belum mengetahui status kesehatannya. Ada pula yang mungkin mengetahui statusnya tetapi belum masuk atau tidak bertahan dalam layanan pengobatan.

Karena itu, angka 11 pasien yang ditangani RSUD Dompu lebih tepat dibaca sebagai kasus yang berhasil ditemukan dan masuk dalam pelayanan rumah sakit, bukan sebagai gambaran keseluruhan jumlah orang dengan HIV di Kabupaten Dompu. (Antara News Mataram)

Persoalan inilah yang membuat skrining dan deteksi dini menjadi penting.

Semakin Cepat Diketahui, Semakin Cepat Ditangani
RSUD Dompu mengimbau masyarakat yang merasa memiliki faktor risiko atau pernah mengalami kemungkinan paparan untuk tidak ragu melakukan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Deteksi lebih awal memungkinkan pasien segera mendapatkan layanan dan pengobatan yang diperlukan.

Sebaliknya, ketika status HIV tidak diketahui, seseorang dapat kehilangan kesempatan untuk mendapatkan penanganan sejak dini sekaligus berpotensi menularkan virus tanpa menyadari kondisinya.

Karena itu, pemeriksaan bukan sesuatu yang seharusnya ditakuti.

Mengetahui status kesehatan justru merupakan langkah pertama untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Stigma Jangan Menjadi Penghalang
Selain persoalan medis, penanganan HIV menghadapi tantangan lain yang tidak kalah serius, yakni stigma.

Ketakutan terhadap stigma dapat membuat seseorang enggan melakukan pemeriksaan. Bahkan ketika sudah mengetahui statusnya, pasien dapat mengalami tekanan sosial apabila lingkungan tidak memahami persoalan HIV secara benar.

RSUD Dompu karena itu mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma maupun diskriminasi kepada orang dengan HIV. Dukungan keluarga dan lingkungan diperlukan agar pasien tetap menjalani pengobatan dan tidak kehilangan akses terhadap layanan kesehatan. (RRI.co.id)

HIV juga tidak dapat dinilai hanya dari penampilan seseorang. Orang yang terlihat sehat belum tentu mengetahui status kesehatannya sendiri.

Itulah sebabnya pemeriksaan dan edukasi jauh lebih penting daripada prasangka.

Bukan Sekadar Berapa Kasus yang Ditemukan
RSUD Dompu terus berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu dalam upaya pencegahan dan pengendalian HIV melalui edukasi, skrining, pemeriksaan serta pengobatan bagi pasien. (Antara News Mataram)

Temuan 11 pasien hingga Juni 2026 dengan demikian membawa pesan yang lebih besar daripada sekadar angka.

Pertanyaannya bukan hanya berapa orang yang sudah ditemukan, tetapi berapa banyak yang belum mengetahui statusnya dan apakah mereka yang sudah terdiagnosis dapat terus berada dalam layanan pengobatan.

Di tengah itu, TBC menjadi salah satu pintu penting untuk menemukan HIV yang sebelumnya tidak diketahui.

Dan ketika HIV ditemukan, pesan RSUD Dompu cukup jelas: pasien tidak dibiarkan menghadapi diagnosisnya sendiri. Ada konseling, ada ARV, ada pendampingan medis, dan ada pengobatan berkelanjutan.

Karena semakin cepat HIV diketahui dan ditangani, semakin besar peluang pasien mempertahankan kualitas hidup sekaligus menekan risiko penularan. (DB01)