DOMPU — Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu mulai melakukan penelusuran atau tracing terhadap orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien tuberkulosis (TBC). Langkah tersebut dilakukan untuk menemukan kemungkinan kasus lebih awal sekaligus mencegah penularan berlanjut di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Kegiatan tracing mulai dilaksanakan pada 3 Agustus 2026, diawali di Kelurahan Dorotangga. Pada tahap awal, sebanyak 85 orang yang diketahui memiliki kontak erat dengan pasien TBC menjalani skrining. (RRI.co.id)
Penelusuran kontak erat menjadi bagian penting dalam pengendalian TBC. Sebab, seseorang yang tinggal serumah atau memiliki interaksi dekat dengan pasien TBC dapat memiliki risiko terpapar dan perlu dipastikan kondisi kesehatannya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Dompu, Hj. Maria Ulfah, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mempercepat penemuan kasus TBC di masyarakat.
Menurutnya, Dinkes memberikan pendampingan dan pemantauan dalam pelaksanaan kegiatan, sementara proses skrining dilakukan melalui jaringan Puskesmas. Apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, pasien dapat dirujuk ke RSUD Dompu.
Tidak Menunggu Pasien Datang Berobat
Pola tracing kontak erat menunjukkan bahwa pengendalian TBC tidak hanya dilakukan dengan menunggu masyarakat datang ke fasilitas pelayanan kesehatan ketika mengalami keluhan.
Petugas secara aktif menelusuri orang-orang yang memiliki hubungan erat dengan pasien TBC untuk memastikan apakah terdapat tanda-tanda penyakit atau risiko paparan yang perlu ditindaklanjuti.
Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat upaya deteksi dini. Semakin cepat seseorang yang terinfeksi ditemukan, semakin cepat pula penanganan dapat diberikan dan potensi penularan kepada orang lain dapat ditekan.
Pelaksanaan tracing ini juga berjalan dalam cakupan program skrining TBC yang diperluas Dinkes Dompu ke 40 desa dan kelurahan. Dengan demikian, penelusuran kontak erat menjadi salah satu instrumen penting dalam menjangkau kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi.
Puskesmas Jadi Ujung Tombak
Dalam pelaksanaannya, Puskesmas memiliki posisi penting karena menjadi fasilitas kesehatan yang berhadapan langsung dengan masyarakat.
Dinkes melakukan pendampingan dan pemantauan, sementara tenaga kesehatan di tingkat Puskesmas menjalankan skrining serta menindaklanjuti hasil pemeriksaan sesuai kebutuhan.
Bagi masyarakat yang ditemukan membutuhkan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut, sistem pelayanan kesehatan telah menyiapkan mekanisme rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan.
Langkah tersebut memperlihatkan bagaimana pengendalian TBC dilakukan secara berjenjang, mulai dari penemuan kasus di tengah masyarakat, pemeriksaan di Puskesmas, hingga rujukan apabila diperlukan.
Maria Ulfah menegaskan bahwa percepatan penanganan menjadi bagian penting dari upaya Dompu menuju nol TBC, sekaligus mendukung peningkatan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan.
Upaya tracing terhadap kontak erat tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang menemukan orang yang mungkin terpapar TBC. Lebih jauh, langkah ini merupakan upaya untuk memutus mata rantai penularan sebelum berkembang menjadi kasus baru yang lebih luas. (*/Adv)





