DOMPUBICARA—Ada masa ketika nama Gunung Tambora dielu-elukan dalam panggung besar bernama Tambora Menyapa Dunia. Spanduk terbentang, tamu berdatangan, dan narasi kebanggaan dikumandangkan: bahwa dari tanah Dompu, dunia pernah berubah.
ABDUL MUIS DOMPU
Namun waktu berjalan. Panggung itu pelan-pelan sunyi. Event yang dulu menjadi wajah promosi daerah tak lagi terdengar gaungnya. Tambora, seperti ditinggalkan dalam kesunyian—tanpa seremoni, tanpa sorotan.
Diam Tapi Mematikan, Ancaman Tak Terlihat dari Perut Tambora
Tapi barangkali kita keliru. Tambora tidak pernah benar-benar diam. Ia hanya menunggu cara lain untuk “menyapa”. Dan kini, sapaan itu datang bukan dari panggung, bukan dari festival, bukan dari baliho promosi. Melainkan dari dirinya sendiri—dari alam yang selama ini kita banggakan, tetapi mungkin mulai kita abaikan.
Dulu, Tambora disapa dengan agenda. Dengan jadwal. Dengan konsep. Ia dirayakan secara formaL, direncanakan, dianggarkan, dan dipublikasikan. Sekarang, tanpa semua itu, Tambora tetap hadir.
Gunung itu tidak kehilangan makna hanya karena kehilangan event. Justru dalam ketiadaan panggung, ia menunjukkan eksistensi yang lebih jujur: sebagai warisan sejarah, sebagai kekuatan alam, dan sebagai pengingat bahwa kebesaran tidak selalu butuh seremoni.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk “membuat Tambora berbicara ke dunia”, sampai lupa bahwa Tambora sendiri sudah lama berbicara kepada kita.
Viral! Wakil Bupati Dompu Walk Out dari Sidang Paripurna, Ada Apa?
Tidak adanya Tambora Menyapa Dunia bukan sekadar hilangnya festival. Ia bisa dibaca sebagai tanda—bahwa perhatian kita terhadap potensi daerah sering kali bersifat musiman. Saat ada anggaran, kita meriah. Saat tidak, kita diam.
Padahal Tambora tidak pernah musiman. Ia tetap berdiri. Tetap menyimpan cerita letusan dahsyat yang mengubah iklim dunia. Tetap menjadi identitas geografis dan historis yang tak tergantikan.
Sunyi ini, jika kita mau jujur, adalah teguran halus. Bahwa yang hilang bukan Tambora—tetapi konsistensi kita.
Kini, ketika Tambora “menyapa” kembali—entah melalui perhatian publik, diskusi, atau bahkan fenomena alam—ia seperti ingin mengatakan, “Aku tidak butuh panggung untuk diingat.” Dan mungkin ini justru momentum terbaik.
Bukan untuk menghidupkan kembali event semata, tetapi untuk membangun kesadaran baru: bahwa Tambora bukan sekadar objek promosi, melainkan pusat narasi yang harus dirawat secara berkelanjutan dalam pendidikan, pariwisata, hingga kebijakan daerah.
Jika Tambora Menyapa Dunia ingin dihidupkan kembali, maka ia harus naik kelas. Bukan sekadar seremoni tahunan. Tetapi menjadi gerakan. Gerakan pengetahuan tentang sejarah Tambora, Gerakan ekonomi berbasis wisata berkelanjutan dan gerakan identitas daerah yang hidup sepanjang waktu Karena jika tidak, ia hanya akan kembali menjadi euforia sesaat—ramai di awal, lalu hilang tanpa jejak.Hari ini, narasinya berbalik.
Bukan lagi kita yang menyapa dunia lewat Tambora. Tetapi Tambora yang menyapa kita menagih perhatian, menuntut keseriusan, dan mengingatkan bahwa kebesaran tidak boleh dikelola secara setengah hati.
Pertanyaannya sederhana, apakah kita siap menjawab sapaan itu, atau kembali membiarkannya tenggelam dalam sunyi berikutnya?. Sebab Tambora, sesungguhnya, tidak pernah benar-benar diam.
Catatan aktivitas vulkanik yang dipantau BMKG menunjukkan bahwa di balik ketenangannya, tetap berlangsung gerakan dari dalam—gesekan energi yang tak terlihat, namun menyimpan potensi.
Ironisnya, ketika alam terus bekerja dalam diam, kita justru sering bekerja dalam euforia sesaat.
Hadir ketika ada panggung, hilang ketika sunyi datang. Tambora tidak membutuhkan seremoni untuk tetap bermakna. Tetapi kita barangkali yang terlalu sering membutuhkan seremoni untuk merasa peduli.
Kini, ketika Tambora kembali “menyapa”, sapaan itu bukan lagi undangan festival. Melainkan pengingat keras,
bahwa yang kita abaikan hari ini, bisa menjadi sesuatu yang tak bisa kita kendalikan esok hari.
Tambora mungkin tenang di permukaan. Namun di dalamnya, ia terus bergerak. Dan barangkali, kali ini, kita tidak boleh lagi pura-pura tidak mendengar. (Redaksi)













