SAYA tidak menyangka tulisan sederhana itu akan mendapat respons yang luas. Lebih dari sekadar dibaca, ia ternyata dipikirkan. Bahkan mendapat tanggapan dari kalangan yang selama ini berada di ruang-ruang pengambil kebijakan.
OLEH ABDUL MUIS
Bagi saya, ini bukan soal siapa yang merespons, tetapi tentang satu hal yang lebih penting, bahwa tulisan masih memiliki daya untuk mengetuk kesadaran.
baca : Jelang Tua, Tidak Lagi Mengejar Berita
Di tengah dunia yang semakin cepat, di mana informasi datang silih berganti tanpa sempat dicerna, saya sempat bertanya—apakah tulisan yang pelan dan reflektif masih memiliki tempat?
Respons yang muncul menjawab itu. Bahwa ternyata, publik tidak hanya membutuhkan informasi, tetapi juga penjelasan. Tidak hanya membutuhkan kabar, tetapi juga arah.
Saya tidak merasa sedang mengatakan sesuatu yang luar biasa. Saya hanya menuliskan apa yang saya lihat, apa yang saya rasakan, dan apa yang menurut saya perlu dipikirkan bersama.
Mungkin justru di situlah letaknya. Ketika tulisan tidak dibuat untuk mengesankan, tetapi untuk jujur, ia menemukan jalannya sendiri.
Tanggapan yang datang, termasuk dari kalangan pemerintahan, saya terima sebagai bagian dari ruang dialog yang sehat. Karena pada akhirnya, menulis bukan untuk menutup percakapan, tetapi untuk membukanya.
Saya tetap pada posisi saya menulis untuk menguji kebenaran. Namun hari ini saya memahami satu hal tambahan. Bahwa ketika tulisan itu jujur, ia tidak hanya menjadi milik penulisnya, tetapi menjadi milik publik yang membacanya.
Dan mungkin, di situlah tanggung jawab itu menjadi lebih besar. Bukan untuk menjadi benar sendiri, tetapi untuk terus menjaga agar kebenaran tetap punya ruang untuk dibicarakan. (*)













