DOMPUBICARA-PJ. Sekda Dompu H Khaerul Insan SE,MM menanggapi atas ‘kursi kosong’ Wakil Bupati Dompu Sirajuddin SH yang terlihat saat pelaksaan HUT Dompu yang ke 211 Sabtu 11 April 2026.
Hal itu kemudian menjadi ramai bukan sekadar kursi kosongnya, melainkan makna yang ditangkap publik atas kekosongan itu. Dalam peringatan Hari Jadi ke-211 Kabupaten Dompu, sebuah simbol sederhana tiba-tiba menjelma menjadi bahan perbincangan. Publik menafsir, sebagian bertanya, sebagian lagi menyimpulkan. Di ruang seperti inilah, demokrasi lokal bekerja—kadang riuh, kadang liar, tapi tetap hidup.
Sekda mengungkapkan bahwa kritik tersebut sebagai bagian dari dinamika demokrasi yang sehat. Sebuah sikap yang patut diapresiasi—tidak defensif berlebihan, juga tidak menghindar.
Menurut Sekda, kehadiran atau ketidakhadiran dalam sebuah agenda tidak serta-merta mencerminkan hubungan kerja dan soliditas antar unsur pimpinan. Pemerintahan, katanya, tetap berjalan dalam koridor koordinasi, komunikasi, dan sinergi yang terus dijaga.
Tak Hadir di Agenda Penting, Ini Penjelasan Wabub Dompu
Ditambahkanya, simbol seringkali sederhana, tapi kuat. Ia tidak berbicara panjang, tapi mampu memantik tafsir luas. Sementara penjelasan hadir untuk meredam, meluruskan, sekaligus mengembalikan fokus pada substansi.
Pemerintah Daerah sendiri menegaskan komitmennya pada tema “Bergerak Bersama Untuk Dompu Maju”. Sebuah arah yang, jika dijalankan secara konsisten, tentu tidak akan berhenti pada seremoni, melainkan menjelma dalam kerja nyata—di sawah petani, di kandang peternak, hingga pada denyut ekonomi masyarakat kecil.
Namun demikian, publik hari ini tidak hanya menilai dari apa yang dikatakan, melainkan dari apa yang dirasakan. Apakah koordinasi itu benar terasa?, Apakah sinergi itu tampak dalam kebijakan? dan Apakah kebersamaan itu hadir dalam tindakan?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari pengalaman publik sehari-hari, dari apa yang mereka lihat, dengar, dan alami. Di sinilah pentingnya menjaga keseimbangan antara narasi dan realitas.
Pemerintah membutuhkan kepercayaan. Dan kepercayaan tidak dibangun hanya dengan pernyataan, tetapi dengan konsistensi. Sementara itu, kritik—sebagaimana disampaikan Sekda—memang merupakan energi penting. Namun energi itu akan lebih bermakna ketika tidak berhenti pada persepsi, melainkan mendorong perbaikan nyata.
Bupati Usung Kebersamaan, Kursi Wakil Kosong, Doa Peredam Amarah
Akhirnya, “kursi kosong” mungkin hanyalah satu momen kecil. Namun ia telah membuka ruang percakapan yang lebih besar: tentang kepemimpinan, tentang persepsi publik, dan tentang harapan terhadap arah Dompu ke depan.
Dan dalam percakapan itulah, sesungguhnya demokrasi lokal menemukan denyutnya, demi Kemajuan Dana Nggahi Rawi Pahu. (*)













