Status Waspada (Level II) pada Gunung Tambora kembali menempatkan salah satu gunung paling bersejarah di Indonesia dalam radar perhatian. Secara teknis, status ini belum mengindikasikan bahaya besar. Namun jika dibaca dalam konteks yang lebih luas—yakni meningkatnya aktivitas sejumlah gunung api lain di Indonesia—situasinya tidak sesederhana itu.
Selama ini, narasi resmi selalu sama, masyarakat diminta tetap tenang dan tidak panik. Tidak ada yang salah dengan imbauan tersebut. Tetapi yang sering luput adalah satu hal penting ketenangan tidak boleh berubah menjadi kelengahan.
Banyak Gunung Naik Aktivitas Kebetulan atau Pola. Dalam waktu yang relatif berdekatan, aktivitas meningkat di sejumlah gunung, seperti Gunung Merapi, Gunung Semeru,Gunung Ibu dan Gunung Lewotobi. Secara geologi, fenomena ini dapat dijelaskan bahwa Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik, sehingga aktivitas gunung api memang merupakan bagian dari dinamika alam yang wajar.
Gunung Tambora Naik Status Waspada, Pencari Madu Diminta Waspada
Namun persoalannya bukan pada “wajar atau tidak”, melainkan pada cara kita membaca situasi. Ketika banyak gunung menunjukkan peningkatan aktivitas dalam waktu berdekatan, itu bisa menjadi indikasi bahwa tekanan geologi regional sedang meningkat. Bukan berarti akan terjadi letusan besar serentak, tetapi jelas menunjukkan bahwa bumi tidak sedang dalam kondisi statis.
Tambora memang tenang, tapi tidak boleh dianggap biasa. Membicarakan Tambora tidak bisa dilepaskan dari Letusan Gunung Tambora 1815 sebuah peristiwa yang mengubah iklim dunia dan mencatatkan Indonesia dalam sejarah global.
Memang, kondisi saat ini jauh dari skenario tersebut. Aktivitas Tambora relatif terkendali. Namun justru karena karakter Tambora yang cenderung “tenang dalam waktu lama”, setiap peningkatan sekecil apa pun harus dibaca dengan serius. Alat Pemantau Tambora Raib Dicuri, Dompu Terancam ‘Buta’ Informasi Vulkanik
Tambora bukan gunung yang sering “berisik”. Tetapi sekali ia berbicara, dampaknya tidak pernah kecil. Risiko yang sering tidak terlihat yang perlu diwaspadai bukan hanya erupsi besar, tetapi juga risiko berlapis yang muncul ketika banyak gunung aktif bersamaan.
Pertama, risiko operasional negara. Ketika beberapa gunung aktif sekaligus, sumber daya pemantauan dan mitigasi akan terbagi. Dalam kondisi tertentu, respons bisa menjadi tidak optimal. Kedua, risiko ekonomi senyap.
Hujan abu, gangguan penerbangan, hingga terganggunya produksi pertanian dapat terjadi tanpa harus menunggu bencana besar. Dampaknya tidak langsung terasa, tetapi perlahan menggerus.
Ketiga, risiko persepsi publik. Terlalu sering mendengar status “Waspada” bisa membuat masyarakat justru kebal. Bahaya tidak lagi dianggap serius karena terasa seperti rutinitas. Di sinilah muncul fenomena yang berbahaya normalisasi risiko.
Masalah utama kita masih reaktif tetapi belum antisipatif. Selama ini, pendekatan kebencanaan kita masih cenderung reaktif, status naik baru sibuk, erupsi terjadi baru serius. Padahal dalam situasi di mana banyak gunung aktif bersamaan, pendekatan seperti ini tidak lagi memadai.
Yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang, Dari lokal menjadi regional Dari parsial menjadi terintegrasi Dari reaktif menjadi antisipatif. Tanpa itu, kita hanya akan terus berada dalam siklus yang sama—sibuk merespons satu kejadian, sementara potensi lain mulai muncul di tempat berbeda.
Status Waspada pada Tambora bukan alarm bencana, tetapi juga bukan formalitas administratif. Ia adalah sinyal bahwa aktivitas bumi sedang meningkat, risiko tidak selalu datang satu per satu dan kesiapsiagaan tidak boleh bergantung pada kejadian, tetapi pada pembacaan pola.
Indonesia hidup di atas sistem geologi yang aktif. Kita tidak bisa menghindarinya. Tetapi kita bisa memilih apakah akan terus bersikap biasa saja, atau mulai membaca setiap tanda dengan lebih serius. Karena dalam banyak kasus, bencana besar tidak datang secara tiba-tiba. Ia selalu didahului oleh tanda-tanda kecil yang sayangnya sering kita anggap normal. {Abdul Muis}













