5.000 Pohon Kemiri Siap Tanam di Kaki Tambora: Jemput Emas Hijau

Ilustrasi Lereng Tambora di Masa Depan

 

DOMBUBICARA – Balai Taman Nasional Tambora (BTNT) menyiapkan 5.000 bibit kemiri guna menghijaukan kawasan nasional. Langkah ini bukan sekadar urusan tanam-menanam, melainkan cara nyata untuk menje. emput masa depan ekonomi “emas hijau” bagi warga di lingkar kaki gunung.

ABDUL MUIS, DOMPU

Penyiapan bibit produktif ini jadi jawaban atas tantangan lestari hutan Tambora yang selama ini kerap terancam perambah. Ini bukti bahwa konservasi tepat harus mampu kenyangkan perut masyarakat sekitar tanpa rusak ekologi.

Alat Pemantau Tambora Raib Dicuri, Dompu Terancam ‘Buta’ Informasi Vulkanik

Bukan Sekadar Kayu, Tapi Nilai Ekonomi. Pilih kemiri (Aleurites moluccanus) adalah langkah cerdas dan strategis. Beda dengan pohon hutan biasa yang hanya ambil kayu—dan itu dilarang keras di kawasan Taman Nasional—kemiri adalah pohon produktif. Buah bisa panen bertahun-tahun tanpa harus merusak atau tebang pohonnya.

Bagi masyarakat sekitar kawasan, ini solusi konkret agar tidak lagi lirik aktivitas balak liar. Jika perut warga penuh dari hasil hutan bukan kayu, maka hutan Tambora secara alami akan terjaga oleh tangan warga sendiri.

Tambal ‘Luka’ di Lereng Tambora. Kita tidak bisa tutup mata bahwa beberapa titik di lereng Tambora sempat alami degradasi akibat aktivitas perambah yang tak kontrol. Tanam ribuan bibit ini adalah upaya nyata guna “tambal luka” lingkungan tersebut. Ribuan Bibit Kemiri Siap Ditanam di Taman Nasional Tambora

Namun, tantangan terbesar bukan hanya pada seremoni tanam, melainkan pada siapa yang jaga bibit-bibit ini hingga besar. Tanpa melibatkan masyarakat lokal sebagai garda depan, bibit ini hanya akan jadi angka mati di atas kertas laporan. Pemerintah daerah harus hadir pasti sinkronisasi antara konservasi hutan dan berdaya ekonomi warga.

Langkah hijau ini seolah jadi imbang di tengah kabar duka mengenai raib alat pantau vulkanik beberapa waktu lalu. Sebagaimana ulasan kami sebelumnya dalam opini “Ketika Tak Disapa, Tambora Balik Menyapa”, inilah saatnya kita beri sapaan yang ramah kepada gunung bersejarah ini.

Lestari flora Tambora adalah syarat mutlak bagi kelangsungan Geopark Nasional. Kemiri yang tumbuh rimbun nantinya akan menjaga debit mata air yang alir ke hilir, hidupi pemukiman di Dompu hingga Bima. Masa depan air kita, nyatanya bergantung pada seberapa sukses 5.000 bibit ini tahan hidup di atas sana.

Sudah saatnya kita berhenti eksploitasi Tambora secara membabi buta dan mulai jadikan mitra hidup yang saling untung. Kemiri adalah jembatan—sebuah investasi “emas hijau” yang akan kita petik hasil di masa depan. (*)