DOMPU-Ketika Satu Kasus Menjadi Cermin, kasus ini tidak lagi berdiri sendiri. Ia telah menjadi cermin tentang bagaimana hukum diperlakukan, tentang bagaimana kekuasaan diuji, dan tentang seberapa jauh kita berani jujur.
Dugaan keterlibatan tiga oknum aparat bukan sekadar cerita. Ia adalah pertanyaan terbuka yang menunggu jawaban. Dan jawaban itu, hari ini, berada di tangan Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Barat.
Ketika Kasus Camat Pajo Masuk Meja Komisi III DPR-RI (I)
Jika dibiarkan, Ia akan menjadi pola karena tak ada penyimpangan yang berhenti dengan sendirinya. Ia selalu berkembang, dari kecil menjadi besar, dari satu menjadi banyak.
Jika hari ini dibiarkan, maka besok ia akan muncul lagi dengan wajah yang berbeda, tapi cara yang sama. Dan saat itu terjadi, kita tidak bisa lagi mengatakan, “ini kejadian baru”.
Hukum seharusnya menjadi tempat orang mencari keadilan. Bukan tempat orang merasa terancam, jika aparat justru ditakuti, maka ada yang salah. dan jika kesalahan itu tidak diperbaiki, maka hukum perlahan akan kehilangan maknanya.
Kasus ini telah sampai ke meja Komisi III DPR RI. Artinya, ruang pengawasan sudah terbuka, tidak lagi hanya di daerah, tetapi juga di tingkat nasional. Ketika Kasus Camat Pajo Masuk Meja Komisi III DPR-RI (2)
Pertanyaannya tinggal satu, apakah momentum ini akan digunakan
atau dilewatkan begitu saja?. Kita sering menunggu waktu yang tepat untuk jujur. Padahal, kebenaran tidak butuh waktu yang tepat.
Ia hanya butuh keberanian.
Jika hari ini tidak dibuka, maka besok akan semakin sulit. Jika hari ini tidak ditindak, maka besok akan semakin dalam.
Hari ini, nama itu adalah Pajo, satu kasus, satu daerah dam satu cerita. Tapi dampaknya tidak kecil. Ia mengguncang kepercayaan, Ia membuka pertanyaan dan Ia menantang keberanian.
Ketika Kasus Camat Pajo Masuk Meja Komisi III DPR-RI (3)
Dan inilah pertanyaan yang tidak bisa dihindari, jika hari ini tidak diselesaikan dengan jujur, jika hari ini tidak dibuka seterang-terangnya dan
jika hari ini masih ada yang ditutup, besok giliran siapa?
Pada akhirnya, semua kembali pada satu pilihan, membuka atau menyimpan, menegakkan atau membiarkan, jujur atau sekadar terlihat benar.
Publik sudah melihat, Senayan sudah mendengar, perkara sudah terbuka. Sekarang tinggal satu hal, siapa yang benar-benar berani berdiri di sisi kebenaran. (*)













