Di usia 75 tahun, ia masih bertanya ketika banyak orang memilih berhenti bertanya. Ada alasan mengapa saya selalu tertarik membaca tulisan Dahlan Iskan.
Oleh : Abdul Muis
Saya bekerja di Lombok Post, salah satu media dalam lingkungan Jawa Pos Group. Karena itu, Dahlan Iskan bagi saya bukan sekadar nama seorang tokoh media yang saya kenal dari halaman koran atau tulisan-tulisannya.
Ada pengalaman yang menghubungkan saya dengan perjalanan panjang itu.
Ketika Dahlan Iskan memimpin Jawa Pos Group sebagai CEO, saya berada di lingkungan yang beliau pimpin. Dan sampai hari ini, saya masih menjadi bagian dari Lombok Post.
Karena itu, ketika membaca tulisan-tulisan Dahlan sekarang, saya tidak membacanya hanya sebagai seorang pembaca biasa.
Ada ingatan.
Ada pengalaman.
Dan tentu saja, ada kekaguman.
Saya memang salah satu orang yang mengagumi Dahlan Iskan.
Tetapi semakin waktu berjalan, kekaguman itu justru berubah menjadi ketertarikan pada sesuatu yang lebih dalam.
Apa yang membuat pikirannya tetap hidup?
Bukan sekadar masih menulis.
Tetapi masih bertanya.
Masih penasaran.
Masih mau membongkar sesuatu yang bagi orang lain mungkin sudah dianggap selesai.
Belakangan, ketika membaca tulisannya tentang perkara Ibam, saya kembali menemukan sesuatu yang sejak dulu menarik perhatian saya dari cara berpikirnya.
Ada angka Rp5 miliar.
Dan Dahlan mempertanyakannya:
Dari mana angka itu muncul?
Pertanyaan yang sederhana.
Tetapi justru pertanyaan sederhana seperti itulah yang sering menjadi pintu masuk sebuah analisis yang serius.
Ketika sebuah putusan menyebut angka Rp5 miliar, sebagian orang mungkin cukup berhenti di sana.
Angkanya sudah ada.
Putusannya sudah dibacakan.
Perkaranya sudah diputus.
Selesai.
Tetapi Dahlan tidak berhenti pada angka.
Ia ingin tahu bagaimana angka itu terbentuk.
Bagi saya, ini bukan semata soal perkara Ibam.
Ini soal cara melihat sebuah persoalan.
Orang yang ingin mengetahui hasil akan melihat apa keputusannya.
Orang yang ingin memahami persoalan akan bertanya:
Bagaimana keputusan itu sampai pada angka tersebut?
Dan di sinilah saya melihat sesuatu yang menarik dari Dahlan.
Usianya sudah 75 tahun.
Tetapi rasa ingin tahunya belum pensiun.
Ketika masih berada dalam lingkungan kerja Jawa Pos Group, saya tentu melihat Dahlan Iskan dalam kapasitasnya sebagai CEO.
Ada kesan tentang kepemimpinan, keberanian mengambil keputusan, kecepatan bergerak, dan energi yang seolah tidak habis.
Itulah Dahlan yang saya kenal dari masa itu.
Tetapi waktu mengubah cara kita melihat seseorang.
Kini saya tidak lagi melihatnya hanya sebagai seorang CEO.
Saya melihatnya sebagai seseorang yang telah melewati perjalanan panjang, tetapi masih mempunyai satu kualitas yang menurut saya sangat penting:
ia belum kehilangan rasa ingin tahu.
Dan mungkin justru itulah yang membuat pikirannya tetap tajam.
Kita sering menganggap bertambahnya usia identik dengan menurunnya kemampuan berpikir.
Ada benarnya dalam beberapa hal.
Tubuh memang berubah.
Tenaga berkurang.
Kecepatan mungkin tidak sama.
Ingatan pun bisa mengalami perubahan.
Tetapi pikiran memiliki jalannya sendiri.
Ia bisa terus tumbuh.
Bisa terus belajar.
Bisa terus bertanya.
Bisa terus mengoreksi dirinya sendiri.
Karena itu saya mulai berpikir, mungkin ada perbedaan antara usia biologis dan usia intelektual.
Seseorang bisa berusia 30 tahun tetapi pikirannya sudah berhenti tumbuh.
Ia tidak mau mendengar sesuatu yang berbeda.
Tidak mau membaca sesuatu yang baru.
Tidak mau mengubah pandangannya.
Tidak mau mengatakan, “Saya mungkin keliru.”
Sebaliknya, seseorang bisa berusia 75 tahun tetapi masih menemukan sesuatu yang membuatnya berkata:
“Mengapa?”
Dan selama pertanyaan itu masih ada, saya kira pikiran belum benar-benar tua.
Dahlan telah melewati banyak sekali perubahan zaman.
Dunia media yang dahulu ia kenal tidak sama dengan dunia media hari ini.
Teknologi berubah.
Cara orang mendapatkan informasi berubah.
Cara bisnis bekerja berubah.
Masyarakat berubah.
Tetapi pengalaman panjang mempunyai satu keuntungan yang tidak dimiliki orang yang baru memulai perjalanan:
perspektif.
Orang yang telah melihat banyak peristiwa biasanya tahu bahwa sesuatu tidak selalu sesederhana yang terlihat.
Sebuah angka bisa mempunyai cerita.
Sebuah keputusan mempunyai proses.
Sebuah peristiwa memiliki konteks.
Dan sebuah kesimpulan belum tentu menjadi akhir dari pertanyaan.
Mungkin karena itu pula sebuah angka Rp5 miliar masih bisa membuat Dahlan berhenti dan bertanya.
Dari mana?
Kita sering menganggap orang yang cerdas adalah orang yang mempunyai banyak jawaban.
Saya justru mulai berpikir sebaliknya.
Orang yang benar-benar tajam mungkin bukan orang yang paling banyak mempunyai jawaban, tetapi orang yang tahu pertanyaan apa yang harus diajukan.
Ia tidak cepat puas.
Tidak mudah menerima kesimpulan pertama.
Tidak serta-merta menganggap sesuatu benar hanya karena sudah dikatakan oleh orang yang dianggap berwenang.
Ia ingin melihat prosesnya.
Dasarnya.
Hubungan antara satu fakta dengan fakta lainnya.
Di situlah pengalaman bertemu dengan rasa ingin tahu.
Dan menurut saya, kombinasi itulah yang membuat seseorang tetap menarik untuk dibaca.
Ada satu bentuk penuaan yang sering tidak kita sadari.
Bukan keriput.
Bukan rambut putih.
Bukan berkurangnya tenaga.
Tetapi ketika kita mulai merasa tidak perlu lagi belajar.
Ketika kita merasa semua sudah kita ketahui.
Ketika kita tidak lagi tertarik membaca sesuatu yang berbeda.
Ketika kita tidak lagi mau mendengar orang lain.
Ketika kita berhenti bertanya.
Pada saat itulah mungkin pikiran mulai menua.
Dan karena itu, saya kira yang paling penting bukan bagaimana membuat tubuh terlihat muda.
Tetapi bagaimana membuat pikiran tetap hidup.
Saya kira kekaguman kepada seseorang tidak harus berarti menganggap orang itu selalu benar.
Justru sebaliknya.
Kita bisa mengagumi keberanian seseorang berpikir tanpa harus menyetujui seluruh pikirannya.
Kita bisa menghargai cara seseorang melihat persoalan tanpa harus menjadikannya sebagai kebenaran terakhir.
Bagi saya, kekaguman yang sehat adalah ketika seseorang membuat kita ingin berpikir lebih jauh.
Dan itulah yang saya rasakan ketika membaca tulisan Dahlan.
Bukan selalu karena saya sepakat dengan semua yang ia tulis.
Tetapi karena sering kali setelah membacanya, saya justru mempunyai pertanyaan baru.
Dan mungkin itu ukuran yang lebih penting dari sebuah tulisan.
Apakah ia membuat pembacanya berpikir?
Saya kira kita tidak perlu menjadi Dahlan Iskan.
Kita tidak harus menjadi wartawan.
Tidak harus menjadi CEO.
Tidak harus menulis setiap hari.
Tetapi ada satu hal yang bisa kita pelajari dari orang yang usianya sudah 75 tahun namun pikirannya masih bergerak:
jangan kehilangan rasa penasaran.
Ketika melihat sesuatu, tanyakan mengapa.
Ketika membaca sesuatu, tanyakan bagaimana.
Ketika mendengar sebuah kesimpulan, tanyakan apa dasarnya.
Dan ketika merasa sudah paling tahu, mungkin justru saat itu kita perlu berhenti sejenak dan berkata:
Benarkah saya sudah tahu?
Sebab dunia terus berubah.
Pengetahuan terus berkembang.
Dan manusia yang ingin tetap hidup secara intelektual harus bersedia terus belajar.
Mungkin itu yang membuat saya masih tertarik membaca Dahlan Iskan.
Bukan karena beliau tidak bertambah tua.
Tentu saja bertambah.
Usia 75 tahun adalah perjalanan yang panjang.
Tetapi ada sesuatu yang tampaknya belum ikut tua:
rasa ingin tahunya.
Dan bagi saya, itu sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kemampuan untuk terus menulis.
Sebab menulis bisa menjadi kebiasaan.
Tetapi ingin tahu adalah tanda bahwa pikiran masih bekerja.
Dahlan mungkin tidak sedang mengajarkan bagaimana melawan usia.
Ia hanya memperlihatkan, melalui cara hidup dan cara berpikirnya, bahwa usia tidak harus menjadi alasan untuk berhenti bertanya.
Pada akhirnya, umur hanya menghitung berapa tahun yang sudah kita lalui.
Tetapi pertanyaan menunjukkan apakah kita masih benar-benar hidup di dalamnya.
Saya masih berada di Lombok Post ketika membaca dan mengikuti perjalanan Dahlan Iskan dari waktu ke waktu.
Dulu saya mengagumi energinya sebagai pemimpin.
Sekarang, setelah waktu berjalan, saya menemukan alasan lain untuk mengaguminya:
pikirannya belum mau tua.
Dan mungkin itulah yang seharusnya kita jaga sampai kapan pun.
Bukan sekadar umur yang panjang.
Tetapi pikiran yang tetap hidup.












