KILO, DompuBicara.com – Selama puluhan tahun, Kecamatan Kilo seringkali dipandang sebagai “halaman belakang” Kabupaten Dompu. Secara statistik ekonomi, wilayah ujung utara ini kerap menempati urutan buncit dari 8 kecamatan yang ada. Namun, peta kekuatan itu kini sedang dirombak total sering kepastian hadirnya Pelabuhan Nusantara.
Hadirnya proyek strategis nasional Pelabuhan Nusantara di Kilo bukan sekadar tumpukan semen dan beton. Ini adalah proklamasi kebangkitan ekonomi yang siap menggoncang dominasi wilayah-wilayah mapan lainnya di bumi Nggahi Rawi Pahu.
Masalah klasik Kilo adalah isolasi geografis dan tingginya biaya logistik. Petani jagung dan nelayan Kilo selama ini “tercekik” ongkos angkut darat yang mahal untuk membawa hasil bumi ke pelabuhan di luar daerah.
Analisis redaksi DompuBicara.com menunjukkan bahwa keberadaan pelabuhan ini akan memangkas rantai distribusi hingga 40%. “Kilo tidak lagi sekadar kecamatan di ujung aspal. Dengan pelabuhan ini, Kilo bertransformasi menjadi Gerbang Logistik Utama yang terhubung langsung dengan rute pelayaran nasional,” ungkap pakar ekonomi maritim lokal.
Menariknya, kebangkitan Kilo ini menciptakan peta persaingan baru. Jika wilayah selatan (Kecamatan Hu’u) selama ini mendominasi perhatian publik karena eksplorasi tambang raksasa yang padat modal, Kilo kini muncul dengan kekuatan ekonomi kerakyatan yang padat karya.
Jika Hu’u bertumpu pada kekayaan di bawah tanah, Kilo kini bertumpu pada kejayaan di atas laut. Sektor pergudangan, jasa logistik, hingga ekspor perikanan langsung akan menjadi “bahan bakar” baru yang membuat Kilo berlari lebih kencang dibanding kecamatan lainnya.
Pelabuhan Nusantara Kilo Mulai Dibangun : Harapan Besar, Ujian Baru untuk Dompu
Multiplier Effect, Titik Tumbuh Baru (New Growth Pole). Pelabuhan Nusantara diprediksi akan memicu munculnya sektor jasa yang selama ini nihil di Kilo terutama untuk pusat logistik regional,menjadi area penyimpanan stok pangan (Jagung) strategis. (Abdul Muis)













