Opini  

Tambora : Ketika Anak Singgalang Menemukan Rumah di Dompu

Bibir Kaldera Gunung Tambora
Foto : Ir Hendri Atrimus,MBA saat berada dibibir Kaldera Gunung Tambora Dompu

Saya lahir dan dibesarkan di kaki Gunung Singgalang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Gunung yang sejuk, hijau, dan akrab dengan kabut pagi. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa suatu hari saya akan menemukan “rumah kedua” di tanah yang sangat berbeda Dompu, Nusa Tenggara Barat.

Oleh: Ir. Hendri Atrimus, MBA

Tahun 1992 menjadi titik balik perjalanan hidup saya. Sebagai seorang perantau, saya datang ke Dompu dengan banyak pertanyaan, tetapi tanpa prasangka. Seiring waktu, tanah ini tidak hanya menjadi tempat bekerja, melainkan tempat bertumbuh, membangun keluarga, dan belajar memahami kehidupan.

Di antara semua keindahan yang dimiliki Dompu, ada satu yang selalu membuat saya terpukau Gunung Tambora.

Gunung Tambora yang Mengubah Dunia

Bagi banyak orang, Tambora dikenal sebagai gunung yang mengubah sejarah dunia. Letusan tahun 1815 tercatat sebagai salah satu yang terbesar sepanjang sejarah manusia, bahkan memengaruhi iklim global dan melahirkan apa yang dikenal sebagai The Year Without a Summer.

Namun, semakin sering saya mendekatinya, semakin saya menyadari bahwa Tambora bukan hanya kisah tentang kedahsyatan letusan.

Saya telah beberapa kali menjelajahi lerengnya dan dua kali berdiri di bibir kaldera raksasanya. Dari sana saya melihat sesuatu yang berbeda. Saya tidak hanya melihat bekas ledakan yang pernah meluluhlantakkan beberapa kerajaan, tetapi juga menyaksikan bagaimana alam memiliki kemampuan luar biasa untuk memulihkan dirinya sendiri.

Di tempat yang dahulu diselimuti awan panas, kini tumbuh pepohonan yang rindang. Burung-burung kembali bernyanyi. Satwa liar hidup berdampingan dengan hutan yang terus berkembang. Debu vulkanik yang pernah membawa petaka kini menjadi tanah yang subur dan memberi kehidupan bagi masyarakat.

Di sanalah saya belajar bahwa alam selalu menyimpan pelajaran tentang harapan.

Tambora mengajarkan bahwa kehancuran bukanlah akhir dari segalanya. Luka sebesar apa pun dapat dipulihkan oleh waktu, kesabaran, dan keseimbangan alam. Barangkali, pelajaran itu juga berlaku bagi kehidupan manusia.

Sebagai orang yang berasal dari kaki Gunung Singgalang, saya tentu memiliki kenangan yang kuat terhadap tanah kelahiran. Namun setelah lebih dari tiga dekade tinggal di Dompu, saya menyadari bahwa kecintaan terhadap sebuah daerah tidak selalu ditentukan oleh tempat kita dilahirkan, melainkan oleh tempat di mana kita merasa diterima dan diberi ruang untuk bertumbuh.

Kini, setiap kali memandang siluet Tambora dari kejauhan, saya tidak lagi melihatnya sebagai gunung yang pernah mengguncang dunia. Saya melihatnya sebagai simbol ketangguhan. Simbol bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya untuk bangkit.

Status Tambora, Ketika Banyak Gunung Bangun, Apakah Kita Masih Santai?

Dunia mungkin mengenang Tambora karena letusannya yang dahsyat.

Tetapi bagi saya, seorang anak Singgalang yang menemukan rumah di Dompu, Tambora adalah monumen harapan. Ia mengingatkan bahwa setelah setiap kehancuran, selalu ada kesempatan untuk memulai kehidupan yang baru.

Dan mungkin, itulah keajaiban terbesar yang dimiliki Tambora. (*)