Oleh: Abdul Muis
Fajar selalu datang lebih dulu di puncak Tambora.
Sinar matahari perlahan menyapu bibir kaldera yang membentang hampir tujuh kilometer, lalu turun menyentuh padang savana, hutan tropis, dan desa-desa yang hidup di kaki gunung. Burung-burung mulai bersahutan. Kabut tipis bergerak pelan di antara pepohonan. Tak ada tanda bahwa tempat yang tampak begitu damai ini pernah menjadi panggung salah satu bencana alam paling dahsyat yang pernah disaksikan umat manusia.
Namun alam menyimpan ingatan lebih panjang daripada manusia.
Dua abad silam, tepatnya pada April 1815, bumi berguncang hebat dari jantung Pulau Sumbawa. Dentuman yang lahir dari perut Tambora terdengar hingga ribuan kilometer jauhnya. Abu vulkanik membubung puluhan kilometer ke langit, menutupi cahaya matahari, menyelimuti lautan, dan perlahan mengubah wajah dunia.
5.000 Pohon Kemiri Siap Tanam di Kaki Tambora: Jemput Emas Hijau
Di lereng gunung, kehidupan lenyap dalam hitungan jam.
Di belahan bumi lain, musim berubah tanpa dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan pada zamannya.
Sawah-sawah di Eropa gagal dipanen. Salju turun pada musim panas di Amerika Utara. Kelaparan melanda berbagai negeri. Harga pangan melonjak. Wabah penyakit merebak. Jutaan manusia merasakan akibat dari sebuah letusan yang terjadi di sebuah pulau yang bahkan belum dikenal luas oleh dunia Barat.
Sejarah kemudian memberi nama bagi peristiwa itu: The Year Without a Summer—Tahun Tanpa Musim Panas.
Sedikit sekali gunung yang mampu mengubah cuaca lintas benua.
Tambora melakukannya.
Tetapi ironi selalu menyertai kisah-kisah besar.
Nama Tambora tercatat dalam hampir setiap buku penting tentang vulkanologi dan perubahan iklim global. Para ilmuwan, klimatolog, geolog, dan sejarawan menjadikannya salah satu tonggak untuk memahami hubungan antara bumi dan atmosfer. Namun di balik ketenaran itu, tanah tempat gunung ini berdiri sering kali luput dari perhatian. Dunia mengenal letusannya, tetapi belum sepenuhnya mengenal Dompu, masyarakatnya, dan warisan peradaban yang terkubur bersama abu vulkanik.
Padahal Tambora bukan sekadar gunung api.
Ia adalah saksi perjalanan bumi.
Ia adalah makam sebuah kerajaan.
Ia adalah laboratorium alam.
Ia adalah ruang hidup ribuan spesies.
Ia adalah sumber harapan bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Sebelum letusan 1815, lereng Tambora dipercaya menjadi pusat kehidupan yang ramai. Jalur perdagangan menghubungkan pesisir dengan pedalaman. Masyarakat bertani, berdagang, dan membangun peradaban yang kemudian hilang bersama guguran abu dan awan panas. Banyak kisah masih terkubur di bawah lapisan material vulkanik, menunggu ditemukan kembali oleh para arkeolog dan sejarawan.
Namun Tambora tidak hanya menyimpan cerita tentang kehancuran.
Ia juga mengajarkan tentang kebangkitan.
Beberapa dekade setelah letusan, alam mulai menyusun kembali kehidupannya. Pohon-pohon tumbuh di atas tanah yang dahulu membara. Satwa liar kembali menjelajahi hutan. Mata air mengalir lagi. Apa yang semula tampak sebagai akhir ternyata menjadi awal bagi ekosistem baru yang kini dikenal sebagai salah satu kawasan konservasi terpenting di Indonesia.
Di sanalah Tambora menunjukkan wajahnya yang lain: bukan sebagai simbol bencana, melainkan simbol daya lenting alam.
Kini, lebih dari dua ratus tahun setelah letusan itu, dunia memasuki zaman yang berbeda. Krisis iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan kebutuhan akan pembangunan berkelanjutan menjadikan Tambora semakin relevan. Gunung ini tidak hanya menawarkan panorama yang memukau, tetapi juga pelajaran tentang hubungan manusia dengan alam, tentang kehancuran akibat kekuatan bumi, sekaligus tentang kemampuan alam untuk memulihkan dirinya.
Pertanyaannya bukan lagi apa yang pernah dilakukan Tambora terhadap dunia.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang akan dilakukan dunia terhadap Tambora?
Akankah ia hanya dikenang sebagai lokasi letusan terbesar dalam sejarah modern?
Ataukah ia akan tumbuh menjadi pusat penelitian internasional, destinasi geowisata kelas dunia, laboratorium perubahan iklim, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat Dompu dan Pulau Sumbawa?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu tidak hanya bergantung pada pemerintah atau para ilmuwan. Ia juga bergantung pada kesadaran kita bahwa warisan sebesar Tambora tidak boleh berhenti sebagai catatan sejarah. Warisan itu harus dihidupkan, dipelajari, dijaga, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Serial “Tambora: Gunung yang Mengubah Dunia” lahir dari keyakinan sederhana: bahwa setiap gunung menyimpan cerita, tetapi hanya sedikit gunung yang mampu mengubah arah sejarah dunia.
Tambora adalah salah satunya.
Dan dari lereng gunung inilah, kita akan memulai perjalanan panjang untuk memahami bukan hanya apa yang telah terjadi dua abad lalu, tetapi juga kemungkinan-kemungkinan besar yang masih menunggu di masa depan.
Karena sesungguhnya, kisah terbesar Tambora mungkin belum ditulis.
Barangkali, kisah itu baru saja dimulai.













