Suara Lirih Dari Penjara ‘Korupsi’

203

Hallo pak, tolong bantu saya, nama saya SNT (disebutkan nama aslinya) kini saya dalam penjara di Mataram. Sekarang dalam keadaan sangat susah, istri saya sakit dan sedang terlantar diberugak seseorang untuk menagih utang yang pernah dipinjam senilai kurang lebih Rp 600 juta tapi tak diperhatikan dan membiarkanya berada diberugak.

Itulah sekelumit telepon terpidana korupsi pengadaan sapi tahun 2011 lalu SNT. Dia divonis bersalah oleh pengadilan Tipikor Mataram dengan hukuman penjara selama dua tahun. SNT juga dipecat dari pegawai PT POS Indonesia Cabang Dompu karena kesalahanya.

SNT ditangkap pada 9 Pebruari tahun 2017 lalu ketika sedang melaporkan kasus dugaan penipuan ini ke Polres Dompu. Pada saat yang sama yang bersangkutan tengah menjadi DPO aparat Kejaksaan karena kasus dugaan korupsinya.

Dalam keluh kesahnya terungkap SNT tergiur bermain proyek dan berusaha melakukan pendekatan dengan petinggi didaerah. Singkat cerita datanglah seseorang yang diyakini bisa mengubungkanya ke petinggi daerah dengan harapan mendapatkan proyek yang lebih besar.

Uang pun digelontorkan mulai dari Rp 40 juta hingga Rp 200 juta, sehingga total keseluruhanya mencapai Rp 600 juta lebih. Tetapi proyek yang diidamkan tak pernah ada hingga dirinya masuk penjara.

Kini keadaanya sangat sulit, ekonomi rumah tangganya hancur yang diharapkan ada pengembalian uang yang dipinjam seseorang untuk mendapatkan proyek dimaksud justru tak pernah ada.

Ditagih sama sekali tak dihiraukan, bahkan menghindar, kini istrinya yang tinggal di Kota Bima kembali datang menagih seberapapun yang ada karena benar-benar sedang butuh. Tetapi si pemilik rumah malah menghindar dan beralasan tidak punya uang.

Istri SNT yang ditemui diberugak seseorang itu mengakui sudah datang sehari sebelumnya dan hanya duduk diberugak untuk menunggu belas kasihan agar hutang yang pernah dipinjam dikembalikan. ”Saya hanya butuh Rp 5 juta, tetapi dijawab tidak ada, Rp 3 juta pun dijawab tidak ada,” tutur Nyonya SNT dengan mama memerah.

Dia mengaku sakit setelah cukup lama menunggu diberugak itu, mau pulang kerumah rasanya berat karena ada kebutuhan yang sangat mendesak yang harus dipenuhi.

Padahal kata dia pada saat uang dipinjam, dirinya tak sedikitpun ragu berapapun mereka minta segera diserahkan. ”Bahkan saat meminta uang Rp 200 juta langsung diantarkan dengan plastik kresek,” ceritanya sedih.

Pada saat kami butuh seperti ini lanjutnya tak dihiraukan sama sekali dengan alasan yang macam-macam. (DB01)

 

 

 

Komentar