oleh

ULTAH, PARSEL DAN BUDAYA LITERASI

OLEH : ILYAS YASIN

Gadis kurus bermata sipit itu berusaha tersenyum. Rambutnya yang agak kriting sebahu acak-acakan. Matanya sembab karena kantuk berat. Namun rona kebahagiaan terpancar dari wajahnya kala menyambut tiga orang teman perempuannya yang datang menyodorkan kue tar.

 

Tiga lilin sedang menyala di atas kue tar berbentuk bundar itu. Lalu ada angka 26 berdiri di tengahnya. Dari cahaya lilin yang agak meredup tampak sang gadis yang hanya berpakaian dalaman dan tipis itu mendekat ke tiga temannya, lalu segera meniup lilin. Lilin pun padam disambut tepukan serta ucapan ulang tahun dari teman-temannya. Kesunyian tengah malam itu pun berubah riuh penuh kejutan.
Suasana perayaan ulang tahun ala seleb seperti di atas sedang ngetren di kalangan remaja dan pemuda, termasuk mahasiswa sekarang ini. Polanya hampir sama, sekelompok sahabat secara diam-diam memberi kejutan ultah kepada temannya dengan cara membangunkannya di tengah malam, lalu mendaulatnya meniup lilin.

 

Dan itu bahkan dilakukan di tempat yang sangat privat: di kamar tidur—lengkap dengan suasana dan segala properti yang bersifat pribadi. Begitulah. Produksi dan reproduksi “nilai-nilai kemodernan” dalam bungkus kapitalisme yang dijejalkan secara terus-menerus dalam fantasi anak-anak muda telah melahirkan gaya hidup baru—bahkan diadopsi oleh mereka yang tinggal di pedesaaan.
Sekarang ini, perilaku imitatif untuk meniru gaya hidup masyarakat urban, salah satunya ultah tadi menunjukkan secara nyata bagaimana pengaruh media televisi khususnya bekerja dalam membentuk perilaku dan gaya hidup masyarakat (remaja) desa.

 

Kondisi ini membenarkan pernyataan George Gerbner, pakar komunikasi dan peneliti TV AS, yang menyebut TV sebagai “agama” masyarakat industri. Televisi telah menggeser agama-agama konvensional. Khutbahnya didengar dan disaksikan oleh jamaah yang lebih besar daripada jamaah agama manapun. Rumah ibadahnya tersebar di seluruh pelosok bumi, ritus-ritusnya diikuti dengan penuh kekhidmatan, dan boleh jadi lebih banyak menggerakkan hati dan memengaruhi bawh sadar manusia daripada ibadah agama-agama yang pernah ada (Rahmat, 1992: 53).
Sayangnya, dalam konteks masyarakat dunia ketiga seperti Indonesia, upaya untuk meniru dan mengikuti ritus-ritus yang diajarkan “agama” baru ini dilakukan justru sebelum budaya literasi itu terbangun secara mapan sehingga melahirkan modernitas palsu (pseudo modernitas), yakni corak masyarakat yang tampak modern dari sisi artifisial terutama melalui penggunaan berbagai produk teknologi modern—namun kaki yang sebelahnya masih hidup di alam primitif.

 

Walhasil, masyarakat pseudo-modern tidak saja kerap melahirkan watak dan perilaku yang ganjil dan kontraproduktif dari esensi dan tata nilai kemodernan tapi juga ironi dan satiris. Sehingga yang tampak tersisa dari kemodernan kini adalah konsumerisme yang didedahkan secara massif demi memastikan mesin kapitalisme itu tetap berjalan.
Demi mendorong proses literasi publik, saya membayangkan bahwa kebiasaan untuk memberikan hadiah atau parsel kepada yang sedang merayakan hari bahagianya tidak melulu berupa benda-benda konsumtif (makanan atau pakaian) tapi mungkin berupa buku atau karya seni (karya sendiri atau orang lain) sebagai bagian dari upaya mendorong literasi publik tadi.

 

Sebaliknya, masyarakat yang iliterasi akan mudah percaya pada informasi hoax. Mereka langsung percaya bahkan menyebarkan berbagai informasi yang diperolehnya tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu. Celakanya, informasi sumir itu lantas digunakan sebagai dasar untuk menghakimi bahkan memfinah pihak lain yang berseberangan dengan dirinya sebagaimana terlihat dalam isu politisasi agama dalam Pilkada DKI Jakarta belakangan ini.
Di lingkungan pendidikan, terutama kampus, pembangunan tradisi literasi semacam ini harus terus-menerus dipromosikan mengingat posisinya sebagai pengembang dan penebar IPTEKS. Di negara-negara maju kesadaran membangun literasi semacam ini memang sudah berkembang cukup jauh.

 

Di AS misalnya, Perpustakaan Senat (Senat Library) justru lebih populer daripada perpustakaan milik universitas. Demikian pula kebiasaan banyak mantan presiden AS yang mendedikasikan diri mendirikan perpustakaan setelah yang bersangkutan usai menjabat sehingga menjadi misalnya Ronald Reagen Library, George W. Bush Library dan seterusnya.
Di sisi lain, kebiasaan anak-anak muda merayakan ultah berikut parsel seperti di atas, telah menyebabkan tradisi perayaan hari bahagia yang bercorak kebudayaan lokal semakin terancam. Hari-hari ini rasanya sulit menemukan anak-anak muda yang merayakan ultahnya dengan nasi tumpeng atau beberapa jenis ‘selamatan’ yang berbasis pada kearifan lokal (local genius), termasuk dengan kesenian-kesenian tradisional yang menjadi asal-usul kultural mereka.

 

Sebaliknya berbagai corak kebudayaan lokal kita (entah itu kuliner, kesenian, musik atau busana) semakin terancam punah. Kebudayaan lokal itu hanya dilirik saat momen tertentu saja, misalnya kalau ada seremoni perayaan ultah pemerintahan atau penyambutan tamu-tamu tertentu.
Akibatnya, sentra-sentra kebudayaan lokal itu pun terancam punah seiring dengan tiadanya ketertarikan kalangan muda untuk meneruskannya. Dalam konteks kebudayaan Bima Dompu proses menuju kepunahan itu makin cepat jika pemerintah daerah tidak memiliki kepedulian untuk merawatnya. Faktanya kepedulian terhadap kebudayaan lokal semacam ini relatif sepi dari gegap gempita politik lokal. Yang pasti, membiarkan atau menyerahkan konservasi kebudayaan lokal kepada generasi tua yang terus digerus usia berarti kita sedang melempangkan jalan untuk menggali kuburannya sendiri. Proses kematian itu pelan tapi pasti. Betapapun upaya untuk merawat dan merevitalisasi kebudayaan lokal itu mesti dilakukan melalui sebuah rekayasa formal (by desaign) dalam bentuk kebijakan politik yang dilakukan secara sistematis dan kontinyu.
Kini, anak-anak muda, jika hendak merayakan ultahnya tinggal mengundang teman-temannya untuk datang ke berbagai restoran siap saji—-yang disesuaikan dengan isi dompetnya. Bagi yang berkantong tebal mungkin perayaan ultahnya di Japannese Food, KFC, McDonald atau di beberapa food court yang mahal, sedangkan yang berasal dari ekonomi ke bawah akan memesan kue tar seperti dicontohkan di awal tulisan ini. Lalu, quo vadis kebudayaan tradisional kita?

 

PENULIS ADALAH DOSEN YAPIS DOMPU NTB

Komentar

Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Bijaklah dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA. Salam hangat. [Redaksi]

News Feed