oleh

Tidak Sesuai Spek, Bibit Pohon Program Small Grand Ditolak Petani

DOMPU-Pengadaan bantuan bibit pohon program small grand diduga bermasalah.

Pasalnya. Salah satu item jenis bibit yakni bibit Kemiri diduga tidak sesuai spek. Imbasnya, sejumlah kelompok tani menolak pemberian bibit tersebut.

Berdasarkan RAB yang diketahui kelompok tani hutan (KTH). Idealnya tinggi pohon bibit kemiri yang akan diterima para petani berkisar 90 hingga 110 Cm.

Sementara fakta dilapangan, bibit kemiri itu tingginya hanya sekitar 50 Cm. Tentu saja kondisi ini mendapatkan penolakan keras dari para petani. “Sudah ditolak. Kami tidak berani menerima,” ungkap Kades Madaprama Ilham, kepada media ini Rabu (13/12) tadi.

Karena tidak memenuhi spek. Dan tidak ingin menjadi sebuah petaka besar. Gapoktan so Cena Maju yang menjadi kelompok binaan Desa Madaprama, secara sadar dan tegas menolak bantuan bibit yang diduga menyalahi spek tersebut. “Kita minta dikembalikan. Sudah kita laporkan ke yang punya proyek. Dan janjinya akan diganti,” kata Ilham yang juga pengurus Gapoktan.

Desa Madaprama menjadi salah satu desa diwilayah kerja BKPH Ampang Riwo, yang Gapoktan nya mendapatkan bantuan pengadaan bibit Kemiri sebanyak 2000 pohon, melalui program small grand, SSF Bank Dunia.

Selain kemiri. Gapoktan so Cena Maju juga mendapatkan bibit Alpukat 360 pohon. Dengan harga perpohon senilai Rp 97 ribu. Bibit Alpukat ini pula diduga terjadi kekurangan volume sebanyak 160 pohon. Dan total pagu dana senilai Rp 75 juta.

Hasil investigasi media ini terungkap. Indikasi kecurangan pengadaan bantuan bibit pohon juga terjadi pada KTH Mada Oi Kahoro Lestari, Desa Anamina.

KTH Mada Oi Kahoro Lestari juga akan mendapatkan 1000 pohon bibit kemiri. Alpukat 250 pohon, Sawo 250 pohon dengan total pagu dana senilai Rp 75 juta. Khusus untuk bibit Kemiri diduga tidak sesuai spek, karena tinggi pohon hanya 50 Cm.

Kondisi yang sama juga dialami KTH, Sori Kalate. Petani akan mendapatkan 1000 pohon bibit kemiri. Sawo 145 pohon, srikaya 500 pohon dan alpukat 335 pohon dengan pagi dana Rp 75 juta.

Tenaga pendamping dari lembaga SSF (Strengthning Social Forestry). Ida Wahyuni SH saat dikonfirmasi membenarkan apa yang menjadi penolakan petani. “Iya petani menolak karena tidak sesuai spek. Dan itu hak petani menolak,” katanya.

Selaku tenaga pendamping KTH di Desa Madaprama. Pihaknya kata Ida hanya membantu melakukan pendampingan agar petani bisa melaksanakan program Small Grand secara optimal. “Tentu petani minta bibitnya diganti sesuai spek,” tuturnya.

Hingga berita ini dirilis. Kepala BKPH Ampang Riwo, Faruk S.Hut, M.M Inov yang hendak dikonfirmasi belum berhasil dimintai tanggapannya. Dihubungi via telepon dan WhatsApp tidak ada jawaban.

Seperti yang diberitakan sebelumnya. Sebanyak lima kelompok tani hutan (KTH) yang ada di wilayah kerja BKPH Ampang Riwo, pada tahun ini akan mendapatkan bantuan pengdaan bibit pohon buah-buahan melalui program small grand dengan tenaga pendamping dari lembaga SSF Bank Dunia. (DB02)

Komentar

Komentar sepenuhnya tanggung jawab pribadi. Bijaklah dalam pemilihan kata yang tidak mengandung pelecehan, intimidasi, dan SARA. Salam hangat. [Redaksi]